Selasa, 13 Desember 2011

Membangun Kementerian Agama yang Ikhlas Beramal


Bukan sekali dua kali memang Kementerian Agama mendapatkan sorotan maupun tudingan yang bernada “miring” dari masyarakat maupun sesama institusi negara yang lainnya. Sehingga kemudian bila kali ini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengeluarkan statement bahwa Kementarian Agama merupakan salah satu dari 3 kementerian yang rawan korupsi dan memberikan pelayanan terburuk kepada publik, banyak orang tidak menjadi kaget lagi. Hal ini membuktikan bahwa citra Kementerian Agama dalam pandangan publik masih “belum dalam keadaan positif”. Namun, bagi seorang Menteri Agama, tudingan ini tetaplah merupakan sesuatu yang perlu diklarifikasi, sehingga Menteri Agama merasa perlu menyambangi KPK, untuk meminta klarifikasi sekaligus juga memberikan klarifikasi mengenai tudingan tersebut.
Adanya anggapan dan tuduhan-tuduhan negatif terhadap institusi Kementerian Agama, memang seharusnya tidak perlu disikapi dengan reaktif. Adanya citra negatif dalam opini publik, hendaknya justru membuat segenap keluarga besar kementerian agama lebih mawas diri dan instrospektif. Adanya hal-hal tersebut setidaknya menunjukkan bahwa, masih adanya perhatian dari publik, dan publik pun masih mengharapkan agar institusi kementerian agama ini menjadi lebih baik lagi. Oleh karena itu, maka anggap saja bahwa statement-statement negatif tersebut merupakan kritik atas kondisi institusi kementerian agama. Sehingga, hal ini justru menjadi pemicu bagi segenap jajaran kementerian agama, untuk bekerja lebih baik lagi.
Momentum Hari Amal Bhakti Kementerian Agama saat ini yang diwarnai kritik atas kinerjanya, hendaknya dijadikan pula sebagai momentum untuk kritik oto kritik, yakni instrospeksi diri. Hal ini perlu dilakukan, sebab, tentu saja tidak ada yang lebih tahu persoalan-persoalan dalam tubuh institusi kementerian agama, kecuali orang-orang yang ada didalamnya. Lalu, sejauh mana sesungguhnya “ghirah” orang dalam institusi Kementerian agama untuk berubah ke arah yang lebih baik? penulis yakin, banyak pihak yang menaruh harapan besar, terhadap Kementerian Agama Republik Indonesia, salah satunya ditengarai dengan banyaknya kritikan sebagaimana diungkapkan diatas. Namun bagaimana halnya bila, umpamanya, ternyata SDM di Institusi kementerian agama sendiri ternyata sudah berada dalam “zona nyaman” dengan kondisinya saat ini, sehingga tidak ada ghirah perubahan dalam rangka “reformasi birokrasi”.
Jika kita melakukan otokritik kedalam institusi kita sendiri, jelas motif kita adalah untuk membuat institusi kita menjadi institusi yang lebih baik, lebih nyaman untuk kita diami, tanpa ada tendensi apapun, kecuali untuk kebaikan bersama. Begitu banyak yang harus diperbaiki, tentu kita sendiri sebagai “orang dalam” telah maklum adanya. Tidak mudah memang, namun hal ini bukan sesuatu hal yang mustahil untuk dilakukan. “Banyak jalan menuju Roma”, demikian kata orang. Janganlah berputus asa bila semangat perubahan belum mampu menembus jalur yang bernama “birokrasi”.
Sebagai bagian dari keluarga besar kementerian agama, semangat Ikhlas Beramal tentu bukanlah motto kosong belaka. Motto Ikhlas Beramal terkadang diplesetkan menjadi beramal seikhlasnya,  tidak lepas dari opini negatif yang telah terbentuk di masyarakat. Padahal para pendahulu kita menggunakan motto Ikhlas Beramal untuk institusi kita, sebagai sebuah doa dan harapan, agar segenap keluarga besar Kementerian Agama beramal dan bekerja sebagai sebuah bentuk pengabdian kepada bangsa, negara dan masyarakat.
Ikhlas secara bahasa mengandung makna bersih, suci, tidak mengandung kotoran dan menjadikan sesuatu bersih dan tidak kotor. Sedangkan secara istilah, makna ikhlas secara sederhana adalah tanpa pamrih dunia dan hanya berharap ridha dari Allah SWT. Oleh karenanya, memaknai motto ikhlas beramal bisa diawali dari pemahaman bahwa ikhlas adalah “bekerja dijalan yang suci bersih dengan jalan dan cara yang suci bersih tanpa mengharap pamrih kecuali keridhaan dari Allah SWT. Terdengar idealis sekali memang, namun penulis yakin, dalam tataran konsep, tidak mudah untuk menyangkalnya serta bukan suatu hal yang mustahil untuk dilakukan.
Namun sebagai konsekwensi logis dari seorang yang bekerja, tentu ada reward atas segala jerih payah, tenaga, dan pikiran yang dikorbankan. Memiliki penghasilan atas pekerjaan yang telah dilakukan, adalah hak setiap manusia yang bekerja. Namun, karyawan kementerian agama, idealnya memiliki nilai-nilai filosofis keikhlasan, sehingga dalam bekerja, tetap mempertahankan nilai-nilai kesucian dan nilai-nilai ajaran agama.
Ikhlas Beramal juga mengandung makna aktif, dimana kata “beramal” bisa dimaknai bahwa segenap insan kementerian agama harus selalu beramal, yakni bekerja, beraktifitas, yang memberi manfaat kepada bangsa dan negara serta masyarakat. Bukankah teladan kita Rasulullah SAW bersabda; “Khairukum anfa’ukum linnaasi”, sebaik-baik kamu adalah yang memberi manfaat bagi sekalian manusia.
Ada keluhan dikalangan sebagian kecil karyawan Kementerian Agama, dimana masyarakat menuntut bahwa karyawan Kementerian Agama itu harus bisa memimpin doa, tahlil, mengimami sholat, berkhutbah, atau berceramah. Sedangkan mereka merasa tidak memiliki keahlian untuk itu, karena memang bukan lulusan, perguruan tinggi agama Islam atau “jebolan” pondok pesantren. Disatu sisi, memang tidak semua karyawan kementerian agama, memiliki skill keagamaan seperti itu. Namun disisi lain, ada ekspektasi yang kuat di masyarakat, bahwa karyawan kementerian agama, tentulah orang-orang yang memiliki pengetahuan dan keahlian dalam bidang agama dan keagamaan. Ini merupakan sebuah tantangan, bila ternyata seorang karyawan kementerian agama tidak mampu melakukannya. Namun sekaligus sebuah peluang bagi kementerian agama, yaitu dengan memperbaiki kualitas SDMnya untuk memperbaiki citranya. Memang bukan hal besar, namun bisa dipakai sebagai pijakan awal. Kata seorang motivator “bukankah hal-hal besar itu berawal dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan hebat?”
Setiap pegawai negara, memang sepatutnya selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas dirinya, sehingga mampu memberikan pelayanan yang maksimal pada masyarakat, bukan hanya pegawai kementerian agama. Sebagai karyawan Kementerian Agama, kita memang bukan manusia sempurna, yang mampu melakukan segalanya. Kita hanya manusia biasa, yang memiliki banyak kekurangan. Memang perlu diluruskan, pandangan masyarakat bahwa karyawan kementerian agama pasti ahli dalam bidang keagamaan. Namun disatu sisi, tuntutan masyarakat tersebut hendaknya membuat kita lebih termotivasi untuk menambah pengetahuan, wawasan dan keterampilan dalam bidang agama dan keagamaan Islam khususnya.
Idealnya memang karyawan kementerian agama itu berdedikasi tinggi, memberikan pelayanan prima kepada masyarakat, memiliki kecakapan dan keterampilan dibidangnya, namun juga mampu menjadi uswatun hasanah, dalam beramal shalih, menjadi lokomotif paling depan dalam ketaqwaan kepada Allah SWT.
Memang tidak mudah mengubah mindset masyarakat tentang suatu hal, yang sudah tertanam dengan kuat karena pengalaman empirik, ditambah pula dengan rekayasa opini publik. Citra negatif kementerian agama, bukan sebuah hal mustahil untuk dihilangkan. Momentum Hari Amal Bhakti Kementerian Agama kali ini, kita dihadapkan pada tantangan bahwa kita masih dianggap sebelah mata oleh masyarakat. Namun demikian, sesungguhnya masyarakatpun menaruh harapan besar pada institusi yang kita cintai ini. Jangan sampai membuat masyarakat kecewa. Kita masih bisa berubah, ke arah yang lebih baik tentunya. Bahwa kementerian agama mampu memberikan pelayanan terbaik pada masyarakat, memberikan teladan yang baik (uswatun hasanah) dalam beramal. Semuanya bisa diawali saat ini, oleh kita sendiri. Kalau tidak sekarang, kapan lagi, kalau bukan kita, siapa lagi?
Selamat Hari Amal Bhakti Kementerian Agama, Tetap Ikhlas beramal...!


Written by: Didin Fahrudin, S.Sos.I. 

(Penyuluh Agama Islam Kecamatan Astanajapura Kabupaten Cirebon)
 
Artikel ini Alhamdulillah di Muat di Media Pembinaan Edisi januari 2012 halaman 8-9...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Out of Comfort Zone

Bismillah Sebagai warganet, sulit rasanya untuk tidak terlibat, setidaknya ikut beropini dalam kejadian-kejadian yang ramai diberitakan...