Jumat, 09 Desember 2011

Melestarikan Semangat Silaturahmi



Jika timbul ketidakharmonisan atau terjadi percekcokan dalam hubungan antara sesama manusia, maka harus dilakukan sesuatu usaha untuk menentramkan kembali ikatan persaudaraan dengan silaturahmi. rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidak sempurna iman seseorang jika bertengkar lebih dari tiga hari tiga malam". Bahkan Rasulullah secara khusus menekankan: "Tidak sempurna iman seorang suami dan iman seorang isteri kalau bertengkar sampai dimalamkan".
Bagaimana agar persaudaraan dan jalinan keakraban makin mantap dan bisa lestari, maka Rasulullah s.a.w. memberikan tuntunan sekurang-kurangnya dalam dua gambaran tentang persaudaraan dalam Islam.
Pertama, persaudaraan dalam Islam harus satu tubuh. Jika salah satu anggota badan ada yang sakit, maka yang lain harus ikut merasakan sakit. Esensinya, persaudaraan harus diwarnai oleh adanya semangat solidaritas; kepahitan hidup yang dirasakan oleh orang lain turut dirasakan oleh saudaranya.
Kedua, persaudaraan dalam Islam harus seperti sebuah bangunan. Sabda Nabi: Antara satu unsur bangunan dengan unsur yang lainnya saling memerlukan dan saling melindungi. Esensi tercakup sikap ta'awun; sikap saling tolong. Tarahum; saling menyayangi; Tadhamun; saling tanggung jawab. Seperti yang dsabdakan Rasulullah: "Tolonglah orang lain Allah akan menolong kamu, ringankan beban orang lain Allah akan meringankan bebanmu, sayangi orang lain Allah sayang kamu, maafkan orang lain Allah akan mengampuni kamu".
Untuk melestarikan sikap ini, beberapa petunjuk dapat ditemukan dalam Al-Qur'an antara lain dalam surat Al-Hujarat ayat 6-12. Tujuh resep ayat Al-Qur'an dalam surat Al-Hujurat tersebut adalah:
Pertama, budayakan tabayun. Tabayun adalah mengecek kebenaran suatu berita yang sampai ketelinga, terutama mendengar berita jelek tentang teman, saudara dan sebagainya. Sikap seorang muslim adalah, jangan dulu percaya sebelum dicek kebenaran berita tersebut. Al-Qur'an mengatakan jangan sampai kamu benci kepada seseorang karena korban informasi. Jangan sampai mengutuk seseorang karena salah informasi. Rasulullah s.a.w. mengatakan: "Cukup bagi seseorang dikatakan pembual besar jika menceritakan segala yang didengar sebelum dicek kebenaran berita tersebut".
Dalam ajaran Islam yang benar hanya Al-Qur'an. Tafsir bisa salah bahkan hadits juga ada yang dhaif, begitupun dengan qaul ulama bisa keliru.
Kedua, budaya ishlah. Ishlah adalah meluruskan yang tidak lurus, mendamaikan yang tidak damai, merukunkan yang tidak rukun, termasuk meluruskan informasi yang salah. Dalam masyarakat Islam diperlukan suatu lembaga ishlah atau sekurang-kurangnya ada satu pribadi yang dipercaya seluruh pihak untuk melakukan ishlah. Indah sekali jika dlam kehidupan dibudayakan tabayun dan dibiasakan ishlah. Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Islam datang dalam keanehan dan pada suatu saat nanti Islam akan muncul sebagai suatu ajaran yang aneh dan asing, berbahagialah orang-orang yang asing".
Orang-orang yang aneh adalah orang-orang yang melakukan ishlah atas segala hal yang dirusak oleh umat manusia. Oleh karena itu ishlah merupakan salah satu dakwah.
Ketiga, hindarkan taskhirriyah, meremehkan atau memperolok-olokan orang lain.
Keempat, jangan menghina orang lain, menghina orang lain antara lain dengan mengganti nama orang lain dengan gelar-gelar yang tidak baik dan dapat menyakitkan karena mengganggu keakraban dan persaudaraan. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa termasuk menghina orang lain kalau memanggil disertai nama bapaknya.
Kelima, menjauhkan sikap su-udhon atau buruk sangka. Salah satu penyakit rohaniah yang mengakibatkan penyakit jasmaniah dan dapat menimbulkan stress adalah buruk sangka.
Keenam, jangan suka mencari kesalahan orang lain; carilah kesalahan diri sendiri. Janganlah diri disibukan oleh inventarisasi kesalahan orang lain, tapi lebih baik jika menginventarisasi kesalahan diri sendiri.
Ketujuh, jangan suka menggunjing orang lain atau ghibah. Menurut Al-Qur'an, manusa yang suka ghibah itu adalah manusia sadis.
Menggunjing bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dengan berjamaah, karena menggunjing paling nikmat dilakukan dengan berjamaah. Diperingatkan oleh Rasulullah bahwa menggunjing yang paling besar dosanya adalah menggunjing suami sendiri atau isteri sendiri. Bahkan dikatakan dalam sebuah hadits bahwa diharamkan masuk surga bagi seseorang yang suka membuka aib seorang suami atau isteri.

Agar Pergaulan Tetap Lestari

Selain tujuh resep diatas, Nabi Muhammad memberikan enam resep tata pergaulan sehari-hari supaya tetap lestari. Buktikan keakraban persaudaraan antara sesama muslim dengan cara;
Pertama, kalau orang lain mengucapkan salam, maka harus dijawab dengn salam. mengucapkan salam adalah sunah, tapi menjawab slaam adalah wajib; fardhu kifayah, kecuali salam ketika sholat tidak perlu dijawab. Ada ketentuan salam tidak boleh diucapkan kepada non-muslim.
Kedua, kalau orang lain mengundang, penuhi undangannya. Secara khusus agama menganjurkan dua acara keluarga melibatkan orang lain; walimatul nikah dan walimatul aqiqah. Nikah dalam ajaran Islam tidak boleh sirri atau dengan sembunyi-sembunyi, tapi harus dipublikasikan. Dalam ajaran Islam jika seorang bayi lahir, maka di hari ketujuh disunatkan untuk; mencukur rambut, mengumumkan namanya dan aqiqah; yaitu menyembelih seekor kambing untuk bayi perempuan dan dua ekor kambing untuk bayi laki-laki.
Ketiga, Kalau orang lain meminta nasihat, atau saran berikanlah nasihat seperlunya. Jangan sampai orang yang sedang mengalami kesulitan dan menumpahkan kesulitnya kemudian diperberat. Sampai Nabi mengatakan kalau ada temanmu menceritakan mimpinya yang jelek berikan tafsiran yang baik supaya tidk putus asa dan menjadi pesimis. Berikanlah orang lain harapan-harapan dan rasa optimis dalam menjalankan kehidupan. Hal ini perlu dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya.
Keempat, kalau orang lain bersin dan mengucapkan "alhamdulillah", maka di jawab "yarhamukallah".
Kelima, kalau orang lain sakit doakan dan kunjungi. Kalau mengunjungi yang sakit dianjurkan untuk tidak membebani keluarga yang sakit, baik material ataupun moral. Bahkan lebih baik membantu meringankanya.
Keenam, Kalau orang lain meninggal dunia, maka antarkanlah sampai kekuburanya. Kalau ada orang yang meninggal dunia, walaupun orang itu tidak beres, maka ucapkanlah inna lillahi wa inna illaihi raji'un. Tapi jika orang meninggal dunia non-Muslim, janganlah mengucapkan inna lillahi wa inna illaihi raji'un. Kalau ada orang yang membawa jenazah dan melewatinya dianjurkan untuk berdiri, walaupun yang meninggal dunia non-Muslim. Jika melihat mayat dianjurkan untuk menutup mulut dan matanya, kemudian tanganya harus disimpan di dadanya. Selanjutnya dimandikan, dikafani, dan dikubur. Jika mayat akan dikubur, jangan ada barang apapun yang dibawa kecuali kain kafan. Bahkan makampun jangan dibuat mewah, boleh ditembok itupun hanya pinggirnya saja. Begitu juga dengan peti mayat, jika mayat dalam keadaan normal lebih baik tidak menggunakan peti. Apabila menggunakan peti, maka dalam peti harus diberi tanah.
Jika petunjuk-petunjuk diatas dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, insya Allah kehidupan antara sesama Muslim akan terjelma kehidupan yang harmonis.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Out of Comfort Zone

Bismillah Sebagai warganet, sulit rasanya untuk tidak terlibat, setidaknya ikut beropini dalam kejadian-kejadian yang ramai diberitakan...