Senin, 10 Januari 2011

Muhammad SAW: Utusan Agung Pembawa Misi Cinta


Siapa yang cinta pada Nabinya... pasti bahagia dalam hidupnya...
Engkaulah nabi pembawa cinta...
Kau bimbing kami menuju syurga...

Setiap memperingati hari kelahiran kanjeng Nabi Muhammad SAW, sering kali kita diingatkan dengan betapa dengan memperingati hari lahirnya, merupakan salah satu tanda kecintaan kita kepada beliau SAW. Sepanjang sejarah, berbagai ragam cara orang lakukan, ketika mencoba mengungkapkan dan mencoba mengekspresikan kecintaan mereka terhadap baginda Rasulullah SAW. Tak terhitung ribuan syair pujian tercipta, ribuan qasidah didendangkan, teriring harapan dan kerinduan tanda kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Dalam rentang sejarah kehidupan manusia, telah terlahir puluhan, bahkan mungkin ratusan tokoh-tokoh, pemimpin-pemimpin, pentolan-pentolan, orang yang berpengaruh, baik tokoh atau pemimpin bangsa, pemimpin agama, atau pemimpin negara. Namun dari sekian ratus orang tersebut, hanya seorang saja yang mampu menginspirasi begitu banyak manusia, baik yang mempercayainya atau bahkan bagi orang-orang yang tidak mengimaninya.
Ajaran cinta Rasulullah SAW pada hakikatnya adalah lebih agung dari ajaran cinta para pembawa agama dan kepercayaan lainnya di dunia ini. Orang-orang Nasrani boleh saja mengklaim bahwa ajaran Yesus Kristus adalah ajaran yang penuh cinta dan kasih sayang, dengan menyatakan bahwa Yesus Mati di tiang salib adalah bukti kasih sayang Yesus untu menebus dosa umat nasrani. Tapi apa yang Yesus katakan menjelang kewafatannya di kayu salib ?(versi Kristen, tentu saja); “Eli.. Eli.. Sabakhtani..” yang terjemah bebasnya adalah kira-kira “Tuhan.. Tuhan.. Tolonglah Aku..” Bagaimana ia bisa menjadi penolong bagi orang lain, sedang dirinya sendiri saja memerlukan pertolongan? Bagaimana ia bisa menjadi juru selamat bagi yang mengimaninya, sedangkan menjelang ajalnya, ia hanya memikirkan diri sendiri, yang belum tentu pula selamat?
Coba bandingkan dengan saat-saat terakhir Rasulullah SAW saat hendak menghembuskan nafas terakhir ke haribaan ilahi rabbi. Kata-kata yang terucap dari bibir beliau adalah “ummatii... ummatii...”. Betapa Rasulullah di saat-saat ajal menjelang, masih saja beliau mengingat para pengikutnya, ummatnya. Inilah bukti otentik, betapa cintanya Rasulullah kepada ummatnya. Betapa beliau bahkan tidak menyebut orang-orang terdekatnya, ayah-ibunya, atau anak-anaknya. Tapi yang beliau ingat adalah kita, ummatnya, yang bahkan  belum beliau lihat sebelumnya.
Bahkan, cinta dan kasih sayang Rasulullah SAW bukan hanya bagi pengikut dan umatnya yang jelas-jelas pula mencintai beliau. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa ada seorang pengemis Yahudi yang buta kedua belah matanya, yang biasanya duduk mengemis di salah satu sudut pasar kota Madinah. Setiap harinya Rasulullah SAW selalu mendatangi pengemis buta tersebut dan kemudian memberinya makan setiap hari. Setelah Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar R.A. begitu ingin mengikuti jejak langkah Rasulullah SAW, sehingga menanyakan kebiasan apa saja yang selalu dilakukan Rasulullah SAW semasa hidupnya.  Abu Bakar Ash-Shiddiq kemudian menanyakannya kepada putri beliau yang juga istri Rasulullah SAW, Aisyah r.a.
Aisyah R.A. kemudian memberi tahu Abu Bakar R.A. bahwa setiap pagi, Rasulullah SAW selalu pergi ke salah satu sudut pasar di Madinah, sambil membawa makanan dan memberikannya kepada seorang pengemis yahudi buta. Maka berangkatlah Abu Bakar R.A. sambil membawa makanan menuju ke pasar Madinah. Setelah bertanya-tanya, akhirnya Abu Bakar menemukan orang yang dimaksudnya. Namun alangkah terkejutnya abu bakar ketika menghadapi kenyataan bahwa pengemis tersebut, beliau dapati sedang mencaci maki dan menghina Rasulullah SAW. Namun karena beliau yakin bahwa orang yang dimaksud adalah pengemis tersebut maka, kemudian diberikannya makanan yang telah dibawanya kepada pengemis tersebut. Namun ternyata pengemis tersebut, selain buta juga lumpuh, sehingga makan pun harus disuapi. Ketika Abu Bakar menyuapi pengemis tersebut, ia terkejut dan bertanya kemanakah orang yang biasa menyuapinya, karena kali ini ia merasa berbeda. Orang yang biasa menyuapinya, selalu mengunyahkan makanan tersebut, barulah kemudian menyuapinya. Abu Bakar kemudian menjawab; “ketahuilah, wahai pengemis buta, orang yang biasa mengunyahkan dan menyuapimu kini telah tiada, dan akulah sekarang yang akan menggantikannya. Dan ketahuilah orang tua, bahwa orang itu adalah orang yang selama ini selalu kau caci maki, kau hina dan kau nistakan. Beliau adalah Rasulullah Muhammad SAW...”
Subhanallah, manusia agung macam apakah yang memiliki rasa belas kasih seperti itu? Insan mulia yang bagaimanakah yang dikaruniai akhlaq agung semacam itu? Mencintai, bahkan pada orang yang membenci dan menghinakan serta selalu mencaci makinya. Bahkan, dalam peristiwa Fathu Makkah, orang-orang yang dahulu begitu hebat permusuhannya kepada Nabi, bahkan memerangi Nabi dan selalu berusaha untuk membinasakan Nabi SAW, diberinya maaf dan ampunan, serta diberikan pilihan, menjadi muslim atau meninggalkan kota Mekkah dengan damai. Subhanallah!
Demikianlah ajaran cinta dan kasih sayang versi Rasulullah SAW, tidak pandang bulu, tidak pula membedakan usia. Rasulullah sangat mencintai dan menyayangi cucunya yakni Hasan dan Husen, sehingga di waktu mereka masih kecil, bila bertemu dengan mereka, maka Rasulullah akan memangku dan mencium kedua cucunya tersebut. Ketika seorang sahabat melihat hal tersebut, ia berkata: “Seumur hidupku, belum pernah aku melakukan hal tersebut pada anak-anak maupun cucuku...”. Maka Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi (Allah)..”
Demikianlah, Muhammad SAW, seorang Nabi dan Rasul pembawa risalah Islam, pembawa rahmat bagi sekalian alam, mengemban misi menebar cinta dan kasih sayang ke seluruh alam. “wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil ‘aalamiin..” adakah kita umatnya sekarang telah mampu meneladaninya? Mampukah kita menampilkan wajah keislaman kita dalam bingkai cinta dan kasih sayang?
Selama ini, ada kesan seolah-olah Islam ditampilkan jauh dari nilai-nilai cinta dan kasih sayang. Wajah-wajah muslim sering kali tampil dalam frame arogansi, kebencian, permusuhan, anarkisme dan kekerasan. Kita lihat betapa media menampilkan wajah-wajah Islam dalam frame massa Front Pembela Islam yang “menyerang” massa AKKBB,  Atau FPI yang “menyerang” jemaat HKBP di Bekasi. Belum lagi teroris-teroris yang ditangkapi oleh Densus 88 yang hampir semuanya adalah orang-orang Islam, sehingga hampir-hampir saja Islam diidentikkan dengan terorisme.
Padahal, Islam masuk ke nusantara khususnya, tidak dengan jalan kekerasan, tidak juga dengan pemaksaan, dan tidak pula dengan tipu muslihat. Islam disebarkan di Indonesia khususnya, dengan jalan yang indah, damai dan santun. Islam berakulturasi, Islam berasimilasi, dengan nilai-nilai dan norma-norma setempat, sehingga dengan mudah dan cepat Islam dapat diterima oleh masyarakat kita.
Momen maulid Nabi kali ini, kita jadikan momentum untuk kembali menampilkan Islam yang penuh cinta, penebar kasih sayang, dengan belajar langsung pada sang pembawa risalah Muhammad SAW. Sudah saatnya bagi kita, untuk bisa menampilkan kembali Islam yang dibawa oleh Rasulullah, Islam yang benar-benar membawa rahmat, membawa cinta dan membawa manfaat bagi sekitar kita.

Muhammadku Muhammadku dengarlah seruanku...
Aku rindu aku rindu kepadamu Muhammad ku...
Kau ajarkan hidup ini untuk saling mengasihi
Kutanamkan dalam hati...
Kuamalkan sejak dini... (Haddad Alwi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Out of Comfort Zone

Bismillah Sebagai warganet, sulit rasanya untuk tidak terlibat, setidaknya ikut beropini dalam kejadian-kejadian yang ramai diberitakan...