Jumat, 04 Februari 2011

Mengingat Akhirat

 MENGINGAT AKHIRAT
Oleh: Harbayanti Abdi, S.Sos.I.
Mungkin kita sering mendengar pertanyaan seseorang tentang berapa anakmu? Atau berapa banyak uangmu? Berapa mobilmu? Atau mungkin apa jabatan dan pekerjaanmu? Lulusan sekolah mana kamu? Dan lain sebagainya? Sekilas mungkin tidak ada yang aneh dengan pertanyaan seperti itu? Tapi pernahkah kita ditanya atau bertanya apakah anak-anakmu bisa kamu didik dan rawat dengan baik akhlaknya? Berapa banyak uang yang telah kamu belanjakan di jalan Allah? Berapa banyak mobilmu yang semakin mempercepat kedekatanmu dengan Allah?apakah jabatanmu bisa kamu pertanggungjawabkan dihadapan Allah? Dan apakah ilmumu kau amalkan dengan baik? Rasanya jarang kita mendengar pertanyaan dengan kaca mata akhirat seperti di atas. Yang sering kita dengar hanya pertanyaan-pertanyaan dengan orientasi duniawi yang melelahkan dan bahkan membuat stres.
Stress. Penyakit ini sering melanda manusia zaman sekarang. Penyebabnya antara lain beban hidup semakin berat, tuntutan dan kebutuhan hidup yang juga semakin meningkat, dan bentuk interaksi yang semakin beragam. Semua itu membuat manusia menjadi lelah mental dan lelah fisik.
Ketika di kantor, bertemu dengan persaingan internal dan eksternal. Bagi mereka yang bekerja di kantor, tentulah pernah mengalami satu dua hal yang tidak menyenangkan, berhadapan dengan rekan kerja yang suka cari muka pada atasan, tidak disukai pimpinan, berhadapan dengan pemimpin yang senang mencari kesalahan karyawan, hingga gaji yang jauh dari tingkat kebutuhan.
Tatkala berdagang, bermasalah dengan satu dua kasus tagihan yang tidak terbayar karena dagangan sepi, atau bertemu pesaing yang memiliki modal besar dan jumlah barang dagangannya lebih banyak, juga kadang terjadi.
Ujian demi ujian akan datang kepada siapa saja, dengan kadar yang berbeda-beda. Namun demikian ujian yang Allah berikan juga tidak hanya ujian kesulitan, penderitaan, rasa sakit, atau bahkan kesedihan. Allah juga memberikan ujian ketika kita dilanda kebahagiaan. Banyak orang bahkan merasa terlena denga ujian kebahagiaan ini. Akhirnya mereka lupa dan lemah karena diuji dengan kebahagiaan yang Allah berikan. Hal itu bisa terjadi karena kita tidak mampu mengendalikan kesenangan, kebahagiaan,yang Allah berikan. Kita justru lebih kuat ketika mendapat ujian kesengsaraan.
Di rumah, bertemu dangan pribadi-pribadi yang tidak menyenangkan, baik antara penghuni rumah maupun dengan tetangga. Tidak jarang terjadi pergesekan hanya karena hal sepele. Belum lagi kelelahan karena cara pandang kita yang salah dalam menjalani hidup. Hendaknya kita introspeksi diri dengan teliti melihat kekurangan, kesalahan dan kelemahan diri kita sebagai hamba Allah untuk diperbaiki. Bukan sebaliknya, kita sibuk berlomba-lomba mencari kesalahan, kelemahan dan kekurangan orang lain sampai lupa bahwa diri kita sendiri juga punya kekurangan. Harusnya kita  semakin peka terhadap kepnetingan dan kebaikan sesama, bahwa seburuk-buruknya seseorang pasti ada sedikit kebaikannya. Bukan dibalik, bahwa sebaik-baik seseorang pasti ada keburukannya. Karena hal ini nanti yang akan membuat pandangan kita terhadap seseorang selalu buruk, negatif,   walaupun ada sedikit kebaikannya tidak akan pernah terlihat karena sudah terlanjur benci. Maka bersiaplah  kita akan semakin lelah dan lelah.
Sudah saatnya kita menganggap penting untuk mengistirahatkan hati dengan mengalihkan rutinitas duniawi sejenak. Untuk itulah kita memerlukan ibadah ritual, kita memerlukan ibadah sosial, berjalan harmonis seiya sekata. Bukan hanya mengerjakan siklus kehidupan duniawi yang semu, melainkan mengejar kebahagiaan yang kekal di akhirat.
Apalah artinya istri atau suami baik rupa tapi buruk akhlaknya, ia hanya akan membuat sengsara di dunia dan akhirat. Apalah artinya naik haji berkali-kali tapi masih ada kerabatnya yang kekurangan makan, atau bahkan miskin ilmu. Apalah artinya harta banyak, tapi miskin ilmu dunia akhirat. Padahal kesuksesan hidup di dunia dan di akhirat, hanya dapat diraih dengan ilmu. Walaupun kita miskin harta, tapi kita sanggup memberi ilmu, makan, atau sekedar senyum kepada orang lain, berarti kita sudah menjadi orang kaya. Karena orang kaya bukan orang yang hanya berharta, tetapi orang kaya adalah orang yang sanggup memberi sesuatu yang diperoleh dengan cara halal, ikhlas,  untuk sesuatu yang halal. Kita hanya punya ilmu, maka berilah ilmu yang walaupun sedikit kepada orang lain dengan cara halal.       
Jika setiap hari kita bekerja dan setiap hari pula kita bertemu dengan hal-hal yang itu-itu saja, misalnya komputer, meja, surat-surat, atau hanya bertemu wajah-wajah buram dan bahkan sumpeknya lingkungan tempat tinggal, bolehlah sejenak kita mengistirahatkan hati dan pikiran sekaligus menjauh dari rutinitas duniawi.
Mengapa sekali-sekali perlu ada perubahan suasana? Satu jawabannya, karena penyakit mental akan mudah hinggap. Berawal dari penyakit mental-lah, penyakit fisik akan muncul. Rasulullah memberikan resep sederhana agar kita terhibur dari kelelahan dunia. Kata Rasul, “Perbanyaklah mengingat kematian, maka kamu akan terhibur dari kelelahan dunia. Hendaklah kamu banyak-banyak menerima keadaan dengan memperbanyak bersyukur karena ia akan menambah kenikmatan dari Allah SWT. Perbanyaklah berdoa, sesungguhnya kamu tidak akan mengetahui kapan doamu akan terkabul.”
Dengan mengingat kematian, kita diingatkan akan ketidakabadian dunia yang kita kejar. Berlomba-lombalah mengejar kebaikan untuk bekal di akhirat yang kekal. Istirahatkan hati dan pikiran dari kelelahan dunia melalui mekanisme sholat, do’a dan kepasrahan hanya kepada Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Out of Comfort Zone

Bismillah Sebagai warganet, sulit rasanya untuk tidak terlibat, setidaknya ikut beropini dalam kejadian-kejadian yang ramai diberitakan...