Jumat, 06 September 2013

URGENSI PENDIDIKAN DALAM MENANAMKAN NILAI-NILAI AKHLAQUL KARIMAH

Oleh: Didin Fahrudin, S.Sos.I., M.Pd.I
Wakil Sekretaris Pokjaluh Kabupaten Cirebon

Alkisah, di suatu negeri antah berantah, seorang raja cerdik nan bijaksana memerintah dengan adil. Masyarakatnya pun adil sejahtera, karena semua kebutuhannya tercukupi. Suatu ketika, terbersit dalam pikiran sang raja untuk mengadakan tes, sejauh mana kejujuran rakyatnya dalam menaati perintah rajanya.
Untuk melaksanakan hal tersebut, maka sang raja mengeluarkan perintah melalui sebuah pengumuman kepada rakyatnya, agar pada sebuah malam yang ditentukan, setiap keluarga membawa sesendok madu untuk dikumpulkan dalam sebuah wadah yang ditempatkan diatas sebuah bukit dalam keadaan gelap gulita.

Alkisah diceritakan sebuah keluarga, diantara ribuan keluarga penghuni kerajaan tersebut. Terdengar perintah sang ayah kepada sang anak. “nak, nanti malam sebagaimana perintah raja, bawalah sesendok madu ke atas bukit sana. Tapi tak usahlah kau bawa madu, kau bawa saja sesendok air, toh air itu tak akan kelihatan bila dicampur dengan ribuan sendok madu dari keluarga yang lain, dan tidak akan ada yang melihat karena gelap.” Demikian kata sang ayah.
Singkat cerita, setelah malamnya diadakan pengumpulan madu, ketika sang raja memeriksa, ternyata wadah untuk menampung madu tersebut isinya air semua! Rupanya seluruh keluarga di kerajaan tersebut memiliki pikiran yang sama, yakni apalah artinya sesendok air bila dicampur dengan ribuan sendok madu. Namun karena semua orang berpikir yang sama pada saat yang sama, maka tidak ada seorangpun yang membawa madu, dan semua orang membawa sesendok air.
Dari kisah diatas, betapa bahwa kejujuran itu adalah personal, menyangkut diri pribadi (dalam kisah diatas pribadi adalah lingkup keluarga). Betapa sang bapak menganggap, bahwa tidak akan ada orang lain yang tahu apa yang dia lakukan, dan ia berpikir bahwa tidak mungkin ada orang lain yang berpikir seperti dia. Ia tidak merasa “harus”melakukan perintah raja, karena toh sudah ada orang lain yang akan melakukannya. Dan perbuatannya akan tertutupi oleh khalayak ramai.
Penulis teringat sebuah ungkapan Rasulullah SAW ketika akan mensosialisasikan kebaikan, maka “Ibda’ binafsika”, mulailah dari diri sendiri. Demikian pula, ketika kita bermaksud menanamkan akhlaqulkarimah kepada keluarga, kepada anak-anak kita pada khususnya, maka hal tersebut akan lebih efektif dengan memberikan keteladanan, yakni dengan memulainya dari diri kita sendiri. Dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman “Yaa ayyuhalladziina aamanuu quu anfusakum wa ahliikum naaraa..” Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Dalam ayat tersebut, bisa diambil pemahaman bahwa sebelum memerintahkan kepada yang lain (keluarga), terlebih dahulu harus melaksanakannya sendiri, sehingga bisa menjadi teladan bagi orang lain.
Beberapa waktu kebelakang, ada sekolah yang merintis mengadakan program “Kantin Kejujuran”. Hal ini dilakukan sebagai salah satu bentuk pendidikan pembiasaan berlaku jujur. Tidak ada seorangpun yang menunggui kantin kejujuran tersebut. Setiap pembeli memilih sendiri barang yang ingin dibeli, membayar dan mengambil kembalian sendiri. Entah bagaimana kelanjutan program kantin kejujuran tersebut kini. Namun yang perlu digaris bawahi, bahwa selayaknya memang, dunia pendidikan, di sekolah pada khususnya, menjadi tempat menananamkan nilai-nilai akhlakul karimah.  Sepatutnya proses pendidikan memang bukan hanya semata transfer of knowledge, namun juga mampu merubah dan memperbaiki sikap maupun perilaku peserta didik sesuai dengan nilai-nilai akhlakul karimah.
Namun sejauh mana sebetulnya peran pendidikan di sekolah pada khususnya dalam menanamkan nilai-nilai akhlakul karimah kepada siswa. Menanamkan akhlakul karimah disini, bukan hanya memberikan pengetahuan tentang benar-salah, baik-tidak baik, sopan-tidak sopan, namun sejauh mana siswa mampu mengaplikasikan dan menerapkannya dalam sikap dan perilakunya sehari-hari.
Memang disadari atau tidak, proses penanaman nilai-nilai akhlakul karimah ini berhadapan langsung dengan konspirasi global penghancural akhlak moral melalui berbagai media. Sementara para pendidik bekerja keras dengan berbagai metode dan model pengajaran akhlak dan moral, disisi lain pornografi, pornoaksi, aksi kekerasan, pergaulan bebas, menyebar bebas melalui berbagai media yang dengan mudah dan murah dapat diakses oleh anak didik, dengan intensitas dan efektifitas yang melebihi jam belajar di sekolah. Televisi, internet, telepon seluler, telah menjelma menjadi media yang high-tech low-price, yang dengan jitu digunakan oleh para perusak moral dan akhlak sebagai senjata mematikan.
Sedangkan para pendidik kita, masih belum optimal dalam memanfaatkan high-tech low-price ini menjadi sarana pendidikan moral dan akhlakul karimah. Walaupun sudah ada usaha-usaha menuju kesana, namun terasa masih belum optimal. Sebagai contoh saja, Kementerian Agama melalui seksi Mapenda pernah merilis sebuah serial film kartun  yang berisi pendidikan moral dan akhlakul karimah yang diputar di beberapa channel televisi swasta nasional. Namun gaungnya hanya sesaat saja, sehingga dampaknya dirasakan tidak signifikan sebagai salah satu proses pendidikan yang memanfaatkan teknologi media. Dilihat dari kualitas animasi visualnyapun masih kalah amat sangat jauh bila dibandingkan dengan kartun Holywood, Jepang ataupun Korea. Bahkan masih terlalu jauh untuk bisa disejajarkan dengan serial Upin Ipin produksi anak negeri jiran Malaysia. Jangankan untuk menjadi tuntunan, bahkan sekedar untuk menarik perhatian pemirsa jadi tontonan pun rasanya masih sulit.
Idealnya memang pendidikan kita mampu “memanusiakan manusia” kembali. Secara fitrah memang manusia diciptakan sebagai makhluk yang dalam sebaik-baiknya bentuk penciptaan. Laqad kholaqnal insaana fii ahsani taqwiim.. Namun karena berbagai faktor, terkadang ulaaika kal an ‘aamu bal hum adhall, bahwa se sesat-sesatnya manusia, bahkan lebih sesat dari binatang ternak. Untuk mengembalikan kemanusiaan yang kesesatannya melebihi binatang tersebut, maka proses pendidikan bisa memposisikan diri untuk “memanusiakan manusia” kembali.
Proses “memanusiakan kembali manusia” inilah yang menjadi tugas para pendidik, baik itu dalam lingkup pendidikan formal, informal, maupun pendidikan non formal. Proses pemanusiaan ini bukan hanya mengembalikan fungsi manusia sebagai manusia berakal budi (al-hayawanun naatiq) yang membedakannya dari makhluk biologis lainnya, namun juga memupuk dan mengembangkan fungsi manusia sebagai hamba (‘abd) “wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya’buduun”, dan fungsi manusia sebagai khalifah (wa yaj’alukum khulafaa al ardhi”).
Fungsi manusia sebagai al-‘abd dalam arti memfungsikan manusia sebagai hamba Allah yang diberi kewajiban (taklif) untuk berbakti kepada Allah SWT Sang Khaliq Yang Maha Pencipta, menaati segala macam perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Inilah bentuk hablum minallah, yakni akhlaq manusia sebagai makhluq kepada Khaliq Sang Pencipta Allah SWT.
Sedangkan fungsi manusia sebagai Khalifah yakni manusia sebagai makhluk yang diberi mandat untuk mengelola (manajer) alam ini, memanfaatkan seluruh sumber daya alam maupun sumber daya manusia lainnya, sehingga mampu menyelaraskan hubungannya dengan alam (hablum minal ‘alam) dan menjaga hubungan yang harmonis antar sesama manusia (hablum minannaas). Dalam hubungannya dengan alam, manusia mampu mengelola alam dengan santun dan bijaksana sehingga tidak terjadi eksploitasi berlebihan terhadap alam, inilah akhlaq manusia kepada alam dan lingkungan. Dalam hubungannya dengan manusia lainnya, dilakukan dalam prinsip-prinsip keadilan, saling menghormati dan toleransi serta menghargai perbedaan, inilah akhlaq kepada sesama manusia.
Peran pendidik dalam menanamkan nilai-nilai akhlaq al-karimah memang sangat signifikan. Tinggal bagaimana para pendidik menggunakan metode dan pendekatan yang tepat dalam melakukannya. Pemanfaatan teknologi mutakhir, mutlak diperlukan untuk mengimbangi penetrasi orang lain yang justru ingin mendorong kita menuju jurang kehancuran dengan jalanmerusak  moralitas dan akhlaq bangsa melalui jaringan media global. Sudah saatnya kita bangkit, menjadikan teknologi informasi dan media komunikasi global, kita jadikan media tarbiyah wa dakwah ilal akhlaqul kariimah.
Wallahu ‘alam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Out of Comfort Zone

Bismillah Sebagai warganet, sulit rasanya untuk tidak terlibat, setidaknya ikut beropini dalam kejadian-kejadian yang ramai diberitakan...