Senin, 15 Agustus 2011

KHUTBAH IEDUL FITRI 2011

FITRAH KEMANUSIAAN
SUNNATULLAH DALAM KEHIDUPAN
BERBEDA UNTUK BERSATU
BERSATU KARENA  BERBEDA
Oleh: Didin Fahrudin, S.Sos.I., M.Pd.I.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ ,اَللهُ أَكْبَرُ,
 اَللهُ أَكْبَرُ ,اللهُ أَكْبَرُ ,اَللهُ أَكْبَرُ ,
اَللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ, وَللهِ الْحَمْدُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاَ. لاَ اِلَهَ إِلاّاللهُ وَلاَ نَعْبُدُ اِلاَّ اِيَّاهُ مخُلْصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلكَافِرُوْنَ.  لاَ اِلَهَ إِلاّ اللهُ وَحْدَهُ, صَدَقَ وَعْدَهُ, وَنَصَرَ عَبْدَهُ, وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ اِلَهَ إِلاّ اللهُ وَاَللهُ أَكْبَرُ ,اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.
الحمْدُ ِللهِ جَعَلَ اْلأَعْيَادِ مُوْسمًِا ِللْخَيْرَاتِ وَجَعَلَ لَنَا مَا فِى اْلأَرْضِ جمَيْعًا لِلْعِمَارَةِ وَزُرُعِ الحْسَنَةِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ الله ُ وَحْدَهُ َلا شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ اْلكَرِيْمِ سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِيْهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ, فَيَا عِبَادَ الله إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ, وَاعْلَمُوْا اَنَّ يَوْمِكُمْ هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ وَهُوَ الْعِيْدِ اْلمُبَارَكَ اَحَلَّ اللهُ فِيْهِ لَكُمُ الطَّعَامِ وَحَرَّمَ الصِّيَامِ
اَعُوْ ذُ ِباللهِ مِنَ الشَّيْطَا نِ الرَّ جِيْمِ ... وَاعْتَصِمُوْا ِبحَبْلِ اللهِ جمَِيْعًا وَّلاَ تَفَرَّقُوْا  وَاذْكُرُوْا ِنعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ  اِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءًا فَأَ لَّفَ بَيْنَ قُلوُ بِكُمْ فَأَ صْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ اِ خْوَا نًا 
هَدَ انِيَ اللهُ وَ اِيَّا كُمْ مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ المْسُلْمَِا تِ رَحِمَكُمُ الله

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Allah Maha Besar, besar kekuasaan dan kekuatan Nya, besar rahmat dan maghfiroh Nya. Kebesaran Allah tiada terbatas, keagungan Nya berada pada posisi teratas, kekuatan dan kekuasaan Nya maha luas. Berkat rahmat dan maghfiroh Nya, pada hari ini kita bisa berkumpul bersama dalam suasana Iedul Fitri, hari yang amat mulya dan sangat suci, karena kita berkesempatan kembali, dari perjuangan mempertahankan jati diri kemanusiaan sesuai tuntutan hati nurani. Rahmat Allah yang maha besar telah dilimpahkan kepada kita selama satu bulan Ramadhan, bulan yang mengandung nilai-nilai kebajikan lebih mulia dari 1000 bulan, kira-kira 83 tahun atau kurang lebih 30 ribu hari. Berbahagialah ummat  Islam yang beriman, yang telah dapat memanfaatkan kehadiran bulan suci Ramadhan, dengan berpuasa disertai amal kebajikan. Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an yang menjadi pedoman bagi segenap ummat manusia semesta alam.

شَهْرُ رَمَضَا نَ الَّذِىْ أُ نْزِلَ فِيْهِ الْقُرْ آ نُ هُدً ى للِنَّا سِ

Al- Qur’an yang diturunkan Allah pada bulan suci Ramadhan, memberikan gambaran kepada kita akan luasnya ajaran Islam. Al- Qur’an,  dapat menjadi petunjuk bagi manusia berbagai bangsa dari seluruh dunia. Siapapun manusianya, dari manapun datangnya mermpunyai hak yang sama untuk memperoleh bimbingan dan petunjuk Al- Qur’an, sehingga ajaran Islam dirasakan manfaatnya oleh semua ummat manusia penduduk bumi ciptaan Tuhan. Ummat Islam yang berpedoman pada Al- Qur’an  akan selalu melakukan tindakan terpuji sesuai perilaku Nabi, yang memberikan rahmat bagi segenap isi alam.
 وَمَا أَرْسَلْنَاكَ اِلاَّ رَحمَْةً لِلْعَا لمَِينَ   
Globalnya ayat-ayat Al- Qur’an serta universalnya agama Islam memberikan peluang bagi para ahli untuk menafsirkan Al- Qur’an sesuai bidang ilmu yang dimiliki. Peluang ini melahirkan konsekuensi munculnya perbedaan pendapat, perbedaan faham karena berbeda penafsiran, berbeda latar belakang ilmu pengetahuan dan berbeda latar belakang budaya, sehingga menimbulkan multi tafsir yang bersifat interpratable. Karena itulah secara empirik kita menyaksikan banyak kitab tafsir, yang semuanya disusun oleh para ahli tafsir. Di antara para penafsir itu mungkin terdapat perbedaan, dan kita tidak bisa menganggap hanya satu tafsir yang paling benar. Yang jelas paling benar hanyalah Allah yang memiliki firman-Nya, sebab itu dengan kerendahan hati kita menyebut “Wallahu a’lamu bimuroodih”  hanya Allah yang mengetahui maksud sesungguhnya. Kita hanya bisa menafsirkan berdasarkan kemampuan akal fikiran yang terbatas, dengan ilmu yang sedikit. Sebab itu kita tidak perlu sombong, mengaku diri paling pinter, paling benar atau paling sah dalam urusan ibadah.
Ketika terjadi perbedaan pendapat dalam menentukan awal Ramadhan dan 1 Syawwal misalnya, seharusnya ummat Islam lebih mengedepankan syiar persatuan dan kebersamaan ummat, daripada masing-masing mempertahankan “egoisme” pendapat, hasil lajnah golongan yang belum tentu mutlak benar dan tepat. Karena dua metode yang digunakan, baik Hisab maupun Rukyat merupakan bentuk ijtihad manusiawi yang dibatasi oleh kemampuan akal, kondisi geografis serta latar belakang ilmu pengetahuan yang sangat terbatas. Padahal Islam bersifat universal, dapat diterapkan untuk ummat Islam seluruh dunia, yang belum tentu sama waktunya, belum tentu juga sama perhitungannya, juga belum tentu sama bisa melihat hilalnya. Jika setiap golongan atau organisasi Islam di Indonesia, berwawasan luas dengan memperhatikan nilai manfaat kebersamaan dan persatuan, meskipun berbeda organisasi, meninggalkan taklid buta, menyerahkan masalah agama kepada Kementerian Agama sebagai wakil pemerintah, berdialog serta bermusyawarah dengan bersikap adil dan obyektif terhadap pendapat orang lain, mestinya tidak harus selalu terjadi pertentangan dalam menetapkan 1 Syawwal, yang cenderung membingungkan masyarakat awam. Sesungguhnya Allah telah memberikan peluang terbuka untuk bermusyawarah agar bisa ditemukan solusi terbaik, dengan cara menyempurnakan jumlah bilangan puasa kita (Walitukmilul ‘iddata walitukabbirullaha ‘alaa maa hadaakum, wala’allakum tasykuruun).
Dalam konteks inilah ummat Islam harus menyadari bahwa ternyata perbedaan itu tidak bisa dihindari, karena pada hakikatnya perbedaan merupakan fitrah kemanusiaan, sunnatullah dalam kehidupan; tetapi tidak harus selalu bertentangan. Berbeda untuk bersatu, dan kita harus bersatu karena kita saling berbeda. Berbeda cara pandang terhadap ajaran Islam yang bersumber dari Al- Qur’an merupakan keniscayaan, bukan merupakan pertentangan. Berbeda untuk bersatu, karena pada dasarnya perbedaan dalam Islam itu adalah rahmat, jika masing-masing pihak bisa saling menghargai dan menghormati pendapat. Kiblatnya sama, syahadatnya sama, shalat lima waktunya sama, hanya mungkin berbeda cara serta penafsiran dan pemahamannya, berbeda organisasi, partai, golongan dan madzhab yang diikutinya. Justru keadaan berbeda itulah seharusnya, yang menyebabkan kita terdorong untuk bersatu, karena fitrah kemanusiaan sunnatullah dalam kehidupan. Secara sosiologis, tidak ada manusia di muka bumi ini yang bisa hidup sendiri, tanpa ada orang lain yang berbeda, sehingga kita bisa saling mengisi dan melengkapi kebutuhan, saling memberi dan menerima jika ada kekurangan.
Ayat-ayat Al- Qur’an yang bersifat global, ditujukan untuk seluruh ummat manusia di manapun tinggalnya, apapun suku bangsanya, darimanapun asal negaranya.  Ayat-ayat Al- Qur’an yang diturunkan Allah swt pada bulan suci Ramadhan, berlaku untuk seluruh ummat manusia, sesuai dengan ungkapan dalam Surat Al- Baqarah 185. Globalitas Al- Qur’an, mampu menembus semua manusia berbagai bangsa dan budaya, dari berbagai negara dan belahan dunia, aneka warna kulit dan bahasa  sepanjang masa. Seluruh ummat manusia mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan hidayah dari Al- Qur’an, sehingga mereka memperoleh rahmat dengan mempelajari Al- Qur’an, berpedoman pada Al- Qur’an dan berperilaku sesuai tuntunan Al- Qur’an. Al- Qur’an disediakan Allah bukan hanya untuk orang-orang Arab, walaupun ayat-ayat Al- Qur’an berbahasa Arab, karena Nabi Muhammad dan lingkungan kaumnya orang-orang Arab, diturunkan di negeri Arab (Bi lisaani qaumih), tetapi tidak satupun ayat Al- Qur’an mengandung panggilan untuk orang Arab (( يا أ يها ألعر بي . Panggilan ditujukan secara global untuk semua ummat manusia  يا أ يها النا س)). Al- Qur’an secara tekstual dan kontekstual, sebagai kitab suci ummat Islam bersifat universal. Di antara kitab-kitab Allah itu, hanya kitab suci Al- Qur’an, yang sampai hari ini di manapun adanya tetap berbahasa Arab. Meskipun demikian, ayat-ayat Al- Qur’an yang berbahasa Arab itu, dapat dibaca dengan mudah oleh orang yang bukan Arab, bahkan bisa dihafal oleh banyak manusia yang bukan Arab. Sebab itu layak jika Al- Qur’an berfungsi sebagai petunjuk bagi ummat manusia (هدى للناس), untuk mengembangkan fitrah kemanusiaan yang mengandung dua potensi besar, yakni potensi akal dan hati nurani.
    Potensi akal, adalah fitrah dari Allah berupa kekuatan besar yang diberikan kepada setiap manusia. Sehingga manusia sesuai dengan kehendak Allah, layak menempati posisi sebagai Khalifah di muka bumi.
وَاِذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلاَ ئِكَةِ  انِّيْ جَا عِلٌ فِى اْلاَ رْضِ خَلِيْفَةً
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (QS Al-Baqarah, 2:30)
Fitrah manusia berupa akal, adalah potensi besar yang mendorong manusia untuk bisa berfikir sehat dan rasional. Dengan akal pemberian Allah manusia seharusnya dapat memilah dan memilih mana nilai-nilai kehidupan yang bermanfaat dan mudharrat, mana amal yang baik dan mana yang buruk, mana yang halal dan mana yang haram. Kemampuan akal manusia juga telah mendorong lahirnya berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga sesuai kedudukannya sebagai khalifah, manusia dapat menjadi manajer bumi, mengelola dan mengatur sumber daya alam ciptaan Tuhan. Dengan akal sehat, manusia mampu melaksanakan amanat, sehingga ilmu pengetahuan dan tehnologi yang dimilikinya bisa mendatangkan rahmat, memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. Inilah gambaran orang-orang beriman yang telah berhasil menunaikan ibadah puasa dengan selamat, karena puasanya bermakna dan bermanfaat. Kesehatan akal dan hati, akan memberikan dukungan terhadap sehatnya tubuh manusia, karena kebiasaan beramal baik, bersikap, bertutur kata dan berperilaku sehat, terhindar dari perbuatan jahat dan maksiat. Sebaliknya jika potensi akal dan hati tidak berfungsi dengan baik, maka  fitrah kemanusiaan akan jatuh  terpuruk, bahkan lebih buruk dari perilaku hewan. Kelompok manusia saling “menerkam”, mengancam, menikam dan menyakitkan. Satu sama lain saling menjatuhkan dan menyalahkan, hanya karena berbeda faham dan berbeda golongan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamd.
    Dalam kesempatan menikmati hari raya Iedul Fitri, 1 Syawwal 1432 Hijriyah, sambil membesarkan dan mengagungkan asma Allah, bertakbir, bertasbih dan bertahmid, marilah kita membangun kembali kebersamaan meskipun kita saliung berbeda sesuai fitrah kemanusiaan. setelah kita berjuang selama satu bulan Ramadhan, mengendalikan berbagai macam keinginan duniawi. Tantangan globalisasi di era informasi, telah membuat keluarga kita banyak terjebak dalam kehidupan hedonisme (sikap serta perilaku hidup berlebihan,  berhura-hura, berfoya-foya terlena dengan kesenangan dunia)  dan konsumerisme (sikap serta perilaku hidup boros)  yang cenderung mengarah pada materialisme budaya. Budaya materialisme yang menganggap kebahagiaan selalu diukur dengan kesenangan duniawi, secara bertahap akan memalingkan kita dari kekuatan iman, menjauhkan kita dari nilai-nilai spiritual yang sakral serta lupa akan datangnya kehidupan hari akhirat yang lebih kekal. Kembali pada fitrah kemanusiaan, dengan modal potensi dasar berupa akal sehat dan hati nurani yang bersih,  berarti mewujudkan tindakan nyata, dalam bentuk sikap, ucapan maupun perbuatan, sesuai tuntunan Al- Qur’an.
Hati nurani manusia adalah fitrah karunia Allah, yang sulit dinilai dengan materi apapun juga, tidak bisa dihargai dengan uang dan tidak bisa dibeli. Karena itu ketika seseorang melakukan perbuatan dosa, sesungguhnya hati nuraninya merasa gelisah dan resah, ada perasaan yang menghantui dirinya, karena hati nurani sebenarnya menolak semua perbuatan dosa yang dilakukan manusia. Hati nurani adalah potensi dasar yang dimiliki manusia sebagai pemberian Allah, sehingga manusia bisa merasakan nikmat serta lika-likunya kehidupan, manusia bisa merasakan suka dukanya perjuangan menjadi mahluk penghuni bumi. Potensi hati telah mendorong manusia untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan sesuai keinginan hatinya. Ingin hidup layak, ingin rumah megah, ingin isteri cantik, ingin duit banyak, ingin pangkat dan jabatan, ingin mobil dan perhiasan mewah dan berbagai keinginan lain yang cenderung bersifat duniawi. Semua keinginan itu hakikatnya adalah fitrah kemanusiaan, sunnatullah dalam kehidupan, sesuai firman Allah dalam al- Qur’an Surat Ali Imran (3 : 14) :
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ   ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَوةِ الدُّنْيَا   وَاللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ
Artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali Imran, 3 : 14)  

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd, segala puji bagi Allah yang telah memberikan karunia hati nurani, sehingga manusia mempunyai nafsu keinginan.
Keinginan, itulah perasaan yang tumbuh dalam hati manusia, sehingga manusia terdorong melakukan tindakan bervariasi untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Ketika manusia berusaha keras untuk mengejar keinginan, hakikatnya merupakan fitrah sesuai hak azasi manusia. Asalkan tidak berlebihan, melampaui batas kemampuan, maka keinginan seseorang dalam batas kemanusiaan masih dianggap manusiawi. Dalam konteks inilah ibadah puasa telah berperan positif untuk mengendalikan berbagai macam keinginan yang berlebihan. Sesuai dengan maknanya, puasa berarti “imsaak” (rem) yang mengendalikan agar seseorang mampu menahan diri dari segala yang membukakan, rem makan, rem minum, rem sikap, rem nafsu, rem perkataan dan tindakan, agar tidak berlebihan dan melampaui batas. Ketika  keinginan menggebu penuh nafsu, puasa mengendalikan orang beriman tidak bertindak keliru. Ketika nafsu amarah berkobar membara hanya karena perbedaan pendapat dan beda faham, puasa orang beriman mampu mengendalikan  tindakan anarkis yang merusak dan merugikan persatuan. Allah tidak senang kepada manusia yang berlebih-lebihan atau melampaui batas dalam tindakan, apalagi jika menimbulkan kerusakan.
وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلاَ تُسْرِفُوْا اِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ
makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS Al-‘Araaf, 7:31)
وَلاَ تَعْتَدُوْا اِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ الْمُعْتَدِ يْنَ
dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS Al-Maaidah, 5: 87)
وَلاَ تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْأَرْضِ اِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ الْمُفْسِدِ يْنَ.
dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Al-Qashash, 28:77)
Dengan demikian, hakikat puasa  adalah mengandung makna “shaum”  (benteng atau pagar) yang bisa membelenggu iblis sehingga tidak mampu menggoda manusia. Berbagai godaan iblis yang  atang, ketika mendorong manusia untuk melakukan tindakan berlebihan, tidak akan mampu menerobos benteng yang kuat serta pagar yang rapat, jika puasa kita benar-benar bermakna. Selama upaya memenuhi kebutuhan tidak menyimpang dari norma dan nilai-nilai ajaran agama, terlebih dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup keluarga secara halal, maka tindakan manusia dapat dikatagorikan ibadah. Mencintai seorang wanita dengan niat untuk menikahinya sesuai sunnah Rasulullah adalah ibadah, keinginan mempunyai anak dan keturunan sebagai kelangsungan generasi manusia adalah ibadah, usaha untuk mencari kehidupan duniawi agar dapat beramal baik, bersodaqoh, berzakat serta menunaikan ibadah haji ke tanah suci adalah ibadah, menumbuhkan etos kerja secara produktif agar timbul semangat mencari nafkah serta memberi manfaat bagi orang banyak adalah ibadah. Itulah fitrah kemanusiaan yang harus dibangun dan dikembalikan, sesuai dengan potensi akal dan hati nurani yang telah dikaruniakan Allah kepada manusia. Meskipun Allah memerintahkan agar manusia secara spiritual menekuni ibadah, melalui do’a dan dzikir demi kebahagiaan akhirat, namun pada sisi lain Allah juga menegaskan perlunya pendekatan material selama hidup di dunia, agar tidak hidup terlantar dan menjadi beban masyarakat.
وَابْتَغِ فِيْمَا أَتَكَ اللهُ  الدَّارُاْلاَخِرَةَ وَلاَ تَنْسَى نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّ نْيَا 
Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi …(QS Al-Qashshash, 28: 77)
Hidup di akhirat sebagai tujuan akhir kehidupan manusia bersifat kekal dan abadi, kehidupan yang lebih baik dan utama untuk setiap hamba Allah. Untuk memperoleh kebahagiaan akhirat itu, Allah memberikan kesempatan kepada manusia “bersawah ladang atau bercocok tanam” di dunia, karena hakikat kehidupan dunia adalah  مزرعة الا خرة    . Manusia yang rajin beramal baik, berarti memelihara tanaman yang baik, maka di hari akhirat nanti akan menuai hasil panen yang baik, berupa kebahagiaan hakiki di dalam Surga. Sedangkan manusia yang senang berbuat jahat, beramal buruk serta gemar melakukan maksiat, maka di hari akhirat nanti akan memetik hasil panen yang buruk pula, berupa penderitaan yang kekal di dalam Neraka.
Kebiasaan beramal baik selama bulan Ramadhan, marilah kita lanjutkan menjadi tradisi yang bermakna dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi melaksanakan ibadah tepat pada waktunya, shalat berjamaah, membaca al- Qur’an, dzikir dan istighfar, menyantuni anak yatim, memberi makan orang miskin, bershodaqoh dan saling besilaturrahmi, membangun kebersamaan dan solidaritas, menghindari permusuhan dan pertentangan,  merupakan wujud kesalehan sosial yang perlu ditumbuh suburkan dalam kehidupan bermasyarakat. Kesempatan berharga untuk beramal adalah pada masa hidup sekarang ini, sebelum kita mati meninggalkan dunia; pada masa sehat seblum kita menderita sakit; pada masa muda sebelum kita lanjut usia; pada masa sempat sebelum kita merasa sempit karena kesibukan kerja.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd
Maghfiroh Allah yang maha luas, telah ditawarkan kepada kita yang ingin bertaubat memohonkan ampunan Nya. Melalui ibadah, do’a dan dzikir selama bulan puasa, kita mempunyai peluang untuk membaca diri, agar mau mengakui berbagai kesalahan, menyadari berbagai kekeliruan serta berniat usaha untuk memperbaiki sikap dan perbuatan di masa datang. Semoga Allah swt. senantiasa memberikan bimbingan dan hidayah kepada kita semua, sehingga kita selalu berada di jalan yang benar, jalan lurus mengikuti fitrah akal yang sehat serta hati nurani yang jujur dan taat. Terhindar dari pertentangan dan permusuhan diantara sesama ummat, hanya karena kita saling berbeda pendapat, amiin ya rabbal ‘aalamiin.

جَعَلَ اللهُ لَنَا مِنَ اْلأَمِنِيْنَ وَاْلعَائِدِيْنَ وَاْلفَائِزِيْنَ وَأَدْخِلْنَا فِيْ زَمَرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ


Khutbah kedua

اللهُ أَكْبَر, اللهُ أَكْبَر, اللهُ أَكْبَر, اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَر, وَِللهِ الْحَمْدُ. الْحَمْدُ للهِ الَّذِى لَهُ مَا فِى السَّمَوَاتِ وَمَا فِى الأَرْضِ  وَلَهُ الْحَمْدُ فِى الأَخِرَةِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ,  فَيَا عِبَادَ اللهِ,  أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فِى كُلِّ وَقْتٍ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. فقال تعالى: إِنَّ اللهَ وَمَلَئِكَتَهُ  يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىِّ,  يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَات. اللَّهُمَّ أَنْزِلِ الرَّحْمَةَ عَلَى السَّلاَطِيْنَ الْكِرَامِ وَوُلاَةِ الْمُسْلِمِيْنَ الْعِظَامِ, الَّذِيْنَ قَضَوْ بِالْحَقِّ وَبِهِ كَانُوا يَعْدِلُوْنَ   اللَّهُمَّ اجْعَلْ وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ طَيِّبَةً آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً رَخِيَّةً. رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا  بِالْحَّقِ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. رَبَّنَا لاَتُزِعْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً, إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا آتِنَا فىِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ, إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ, وَإِيْتَآئِ ذِى الْقُرْبىَ, وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْىِ, يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ, وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ, وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ, وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ, وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.  اللهُ أَكْبَرْ, اللهُ أَكْبَرْ, اللهُ أَكْبَرْ, لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرْ, اللهُ أَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Out of Comfort Zone

Bismillah Sebagai warganet, sulit rasanya untuk tidak terlibat, setidaknya ikut beropini dalam kejadian-kejadian yang ramai diberitakan...