Minggu, 19 Juni 2011

TANDA-TANDA KIAMAT

Kita mengenal istilah Kiamat Kubra (Kiamat Besar) dan Kiamat Sughra (Kiamat Kecil). Kematian seseorang adalah kiamat bagi dirinya, selanjutnya ia menunggu di alam barzakh bersama orang lain yang sudah mati hingga seluruh makhluk dunia itu mati. Ketika itulah, yakni ketika seluruh makhluk Tuhan mati dan hanya tinggal Dia, Allah al Hayyu al Qayyum, satu- satunya yang hidup, maka itulah hari Kiamat bagi alam semesta.

Kapan datangnya hari Kiamat merupakan rahasia Tuhan, dan tak seorangpun yang mengetahui kepastiannya, tetapi hadis Nabi menyebut tanda “tanda akhir zaman yang mendekati hari Kiamat, meski ukuran dekat yang disebut Nabi sangat berbeda dengan persepsi manusia tentang dekat. Rasul menyebutkan bahwa diantara tanda-tanda dekatnya hari kiamat adalah: Ilmu dicabut dari masyarakat, kebodohan didemontrasikan, perzinaan dilakukan secara terbuka dan minuman yang memabukkan menjadi mode. Hadis lain menyebut tanda-tanda yang lain, yaitu jumlah
lelaki semakin berkurang dan jumlah wanita semakin banyak. Hadis lain menyebutkan bahwa
di zaman akhir, fitnah merajalela, perubahan sosial terjadi dalam tempo yang sangat cepat, ada orang pagi hari masih muslim sorenya sudah kafir, sorenya masih muslim, pagi besoknya sudah kafir. Ketika itu banyak orang dengan mudah menjual keyakinan agama (prinsip-prinsip moral)nya, ditukar hanya dengan sedikit harta.

Dari segi bahasa, qiyamah artinya tegak lurus atau bangkit. Kiamat dalam arti bangkit, kemudian disebut hari kebangkitan, merujuk kepada keterangan bahwa pada hari kiamat, seluruh manusia yang telah mati dibangkitkan kembali oleh Tuhan untuk memperÂtanggungjawabkan perbuatannya selama di dunia, mempertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang maha Adil. Kiamat dalam arti tegak lurus, menurut seorang mufassir, merujuk kepada keterangan bahwa pada hari kiamat nanti seluruh planet di tata surya dalam posisi tegak lurus sehingga sistem tata surya berhenti, alam semesta gelap gulita.

Berbicara tentang kiamat, beberapa pengamat meramal bahwa negara Kesatuan Republik Indonesia sudah mendekati hari kiamatnya. Pernyataan moral tokoh-tokoh agama agak sedikit sopan, yakni menyebut bangsa Indonesia sudah berada di ambang kehancuran. Tanda-tanda mendekatnya hari kiamat Indonesia juga sudah nampak, antara lain, perubahan yang sangat cepat, pameran keÂbodohan dilakukan oleh masyarakat luas, termasuk kaum intelektuilnya, perzinaan dan kemaksiatan merajalela, sistem pemerintahan sudah kurang berfungsi dan sebagainya.

Lalu, apa yang dapat kita lakukan? Kata Nabi, pada zaman yang penuh fitnah itu, bersegeralah melakukan amal saleh, Ba diru bi al a˜mal as salihat. Kalimat saleh dalam bahasa Arab mengandung arti konstruktif (maslahat), perdamaian (sulh), rekonsiliasi (islah), baik kualitasnya
(solahiyyah), dan patut (yasluhu). Ketika ibu pertiwi menangis, sayup-sayup terdengar panggilan kepada seluruh patriot bangsa untuk segera menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran total.
Dari pesantren tradisionil di dusun kecil jauh dari pusat kekuasaan juga terdengar seruan SOS, Ilahi sallimil ummah, minal afati wanniqmah wa min hammin wamin ghummah bi ahlil badri ya Allah. Ya Tuhanku, selamatÂkanlah bangsa ini, dari bencana dan penyakit, dari kecemasan dan kesedihan, berilah kami kemenangan seperti yang pernah Engkau berikan kepada ahlul Badar.

Bangsa ini hanya mungkin diselamatkan jika kita memulai berfikir dan berbuat kontruktif, melakukan perdamaian secara vertikal, horizontal dan internal, melakukan rekonsiliasi terhadap problem masa lalu, memelihara kualitas diri dan memelihara nilai-nilai kepatutan dalam
pergaulan sosial, regional, nasional dan international.

Menurut teori Ibnu Khaldun, siklus kiamatnya suatu bangsa itu minimal dalam putaran seratus tahun. Usia Republik Indonesia itu baru 66 tahun, artinya Indonesia belum waktunya kiamat.

Oleh karena itu upaya menyelamatkan bangsa ini masih menyajikan sejuta harapan, asal kita benar-benar memiliki kehendak bersama untuk selamat. Sunnatullah mengajarkan bahwa tiada gelap yang selamanya, habis gelap pasti terbit terang, Di balik kesulitan ternyata tersedia
segudang kemudahan, fa inna ma˜a al ˜usri yusra, inna ma˜a al ˜usri yusra. Sadaqallah al adzim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Out of Comfort Zone

Bismillah Sebagai warganet, sulit rasanya untuk tidak terlibat, setidaknya ikut beropini dalam kejadian-kejadian yang ramai diberitakan...