Rabu, 07 Desember 2011

RAGAM CINTA DALAM QURAN



Siapa orang yang tidak pernah jatuh cinta? Indah berbunga-bunga atau berdebar-debar. berbagai ragam cinta ternyata dalam bahasa Arab memiliki 60 jenis istilah cinta, seperti isyqun (asyik),
hilm, gharam (asmara), wajd, syauq, lahf dan sebagainya qur'an menyebutnya seperti:

pertama. Cinta mawaddah (Q/30:31) adalah jenis cinta menggebu-gebu, membara dan nggemesi. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu
ingin memuaskan dahaga cintanya.

kedua. Cinta Rahmah (Q/30:31) adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri.

ketiga. Cinta mail adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain kurang diperhatikan. Cinta mail dalam qur'an disebut dalam konteks orang poligami yaitu ketika sedang jatuh cinta kepada yang lebih muda (an tamilu kulla
al mail) cenderung mengabaikan kepada istri tua.

keempat. Cinta Syaghaf adalah cinta yang salangat mendalam, alami, orisinal dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa
diri hampir tak menyadari apa yang dilakukan. qur'an menggunakan term syaghaf mengisahkan cinta Zulaikha kepada Nabi Yusuf AS.

kelima. Cinta Ra'fah yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran. Misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkan untuk shalat subuh, membelanya mesti salah. Qur'an menyebutkan term ini agar janganlah cinta ra'fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah SWT, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2)

keenam. Cinta Shobwah yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku menyimpang tanpa sanggup mengelak. Qur'an menyebut term ini ketika mengisahkan nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaikha namun Nabi Yusuf tergelincir dalam perbuatan bodoh (wa illa tashrif'anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min aljahilin (Q/12:33 ketujuh. Cinta Syauq (rindu) term ini bukan dari Qur'an tapi hadist yang menafsirkan Quran.

Dalam surat al-ankabut ayat 5 dikatakan barangsiapa rindu berjumpa Allah SWT waktunya pasti akan tiba. kalimat kerinduan ini diungkapkan dalam doa ma'tsur dari hadist ahmad: wa as'aluka ladzzata an andzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa'ika. "Aku mohon dapat merasakan
nikmatnya mamandang wajah-Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa denganMu"

Senin, 05 Desember 2011

KEPEMIMPINAN MASA KINI


Membahas masalah kepemimpinan dari masa ke masa, ibarat membuka kalender kehidupan, sambung menyambung tiada henti. Sebab usia kepemimpinan itu sendiri seiring dan sejalan dengan peradaban manusia.Apa yang telah diuraikan di bagian depan, hanyalah sekelumit dari
timbunan yang bak gunung dalam gudang sejarah nan luas, tak bertepi dan tak beratap. Buat kita yang penting adalah sejauh mana bisa memetik hikmah dan pelajaran darinya.

Penulis yang cukup menggemparkan dunia menjelang akhir abad ke-20, Sammuel P. Huntington, dalam akhir tulisan di buku The Third Wave: Democratization in The Late Twentieth Century

1) menyatakan, bahwa gelombang demokrasi telah terus menerus tanpa henti menghantam pantai kediktatoran. Dan untuk mewujudkan demokrasi, para elit politik di masa depan harus percaya bahwa demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang paling sedikit keburukannya. Oleh karena itu mereka harus memiliki ketrampilan untuk mewujudkannya, terutama dalam menghadapi
golongan konservatif yang pasti akan terus mencoba bertahan. Demokrasi itu sendiri mempunyai dua dimensi kemasyarakatan dan dimensi kekuasaan/pemerintahan.

2) Pada tingkat kemasyarakatan prinsipnya adalah masyarakat demokrasi itu memiliki kebebasan, dan hanya dibatasi oleh konstitusi, hukum dan etika. Sebaliknya pada tingkat pemerintahan, pada dasarnya terbatas, sehingga pemerintahan dalam demokrasi disebut Governing dan bukan rulling. Governing adalah satu proses pengelolaan
kekuasaan di mana keputusan-keputusan diambil berdasarkan konsensus. Tidak ada pemerintahan atau pengambilan keputusan secara sepihak, tetapi dirundingkan melalui proses tawar-menawar yang demokratis dan transparan.

Perubahan dalam sistem ketatanegaraan tersebut membawa dampak besar dalam aturan main dan gaya kepemimpinan atau pemerintahan. Namun demikian berbagai literatur klasik maupun
modern menunjukkan bahwa syarat, etika dan moral kepemimpinannya tidaklah berubah. Syarat, etika dan moral itu merupakan benang merah kepemimpinan dari suatu negara yang bermoral
yang mengutamakan keadilan, ketenteraman, kesejahteraan dan kemakmuran masyarakatnya ”suatu kebutuhan universal.

Bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, dan juga telah mengalami masa transisi dengan berbagai kerajaan Islam sebelum Proklamasi Kemerdekaan, termasuk Keraton
Kasunanan Surakarta, secara teoritis masalah kepemimpinan yang Islami bukanlah hal yang baru lagi.

Sedangkan pemerintahan dan kepemimpinan yang Islami sebagaimana dicontohkan Nabi
Muhammad Saw, dalam kehidupannya di Madinah, adalah justru banyak dicita-citakan.
Sayang sekali, sejarah juga menunjukkan tidak banyak pemimpin maupun pemerintahan Islam yang berhasil melaksanakan ajaran Rasulullah Saw, tersebut. Baru dalam hal keikhlasan dan proses menjadi pemimpin saja, sesungguhnya telah banyak pemimpin-pemimpin Islam yang gagal di tengah jalan. Betapa banyak tokoh kita yang secara ambisius dan terang-terangan

meminta jabatan, bahkan jika perlu merebutnya dengan segala cara. Padahal Rasulullah Saw. tidak menyukai hal tersebut.

Pernah, sahabat Abu Dzar Ra, berkata, Wahai Rasulullah, mengapa paduka tidak mengangkatku sebagai pejabat? Mendengar itu Rasulullah menepuk punggungnya seraya
bersabda, Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah, padahal sesungguhnya jabatan itu adalah amanah, yang pada hari kiamat nanti akan memunculkan cela dan penyesalan, kecuali bagi orang yang dapat melaksanakan hak amanat itu dan kewajibannya sebagai pejabat, sebagaimana seharusnya. (HR. Muslim dan Abu Daud)


Petunjuk Rasulullah tadi bukan hanya dikemukakan kepada Abu Dzar saja, tetapi juga kepada
Abdurrahman bin Samurah, Wahai Abdurrahman! Janganlah kamu meminta pangkat kepemimpinan. Apabila kamu sampai diberi, maka hal itu akan menjadi suatu beban yang berat bagi dirimu. Lain halnya kalau kamu diberi tanpa meminta, maka hal itu tidak menjadi masalah bagimu. Bahkan kepada Abu Musa dan dua orang keponakannya, Rasulullah kembali
menegaskan, Demi Allah, aku tidak akan memberikan pekerjaan tersebut kepada seorang yang memintanya, apalagi kepada seseorang yang amat loba kepadanya. (HR. Muslim)


Kini, Republik kita sedang mengalami krisis kepemimpinan. Imam Al Ghazali dalam risalahnya
Nasihat Bagi Penguasa mengulas sebab-sebab seorang penguasa yang kehilangan
kekuasaanya dengan menyatakan antara lain bahwa penguasa tersebut tertipu oleh kekuasaan, kekuatan dan kesenangannya akan pendapat dan pengetahuannya. Ia melupakan musyawarah, dan menyerahkan kekuasaan kepada para petugas yang tak berpengalaman, melupakan petugas
senior dan berpengalaman.

Ia telah menyia-nyiakan kesempatan dan peluang yang tepat, tidak banyak berpikir tentang peluang itu, dan tiada pula melaksanakan pada saat yang diperlukan. Ia kurang tanggap pada
tempat yang harus siap segera, dan kurang cepat menggunakan kesempatan dan kesibukan untuk memenuhi segala keperluan. Para utusan dan pembantu yang tidak jujur serta berkhianat dalam menyampaikan risalah, hanya karena kepentingan perut mereka, menurut Al Ghazali, juga sangat menimbulkan keburukan. Betapa banyak kerajaan menjadi hancur karena ulah mereka.

Islam mengajarkan sabda Rasulullah, Apabila Allah berkenan untuk munculnya kebaikan bagi seorang pemimpin, maka Allah akan memperuntukkan baginya menteri yang jujur, yang
bila ia lupa, maka ia (menteri) akan mengingatkannya, dan bila ia ingat maka menteri pun akan membantunya. Dan apabila Allah berkehendak selain itu, maka Allah akan menyediakan baginya menteri yang jahat, yang bila ia (pemimpin) lupa, maka sang menteri tidak mengingatkannya,
dan bila ingat maka sang menteri tidak membantunya. (HR. Abu Daud)


Kalaulah kerajaan di masa lalu kita analogkan dengan Republik dan Raja kita analogkan dengan
para pemimpin bangsa, maka tergolong pemimpin yang manakah kita sekarang ini? Melihat keamanan yang semakin tidak terjamin, keadilan yang semakin jauh dan kian memudarnya kepastian masa depan, rasanya sudah seharusnya jika kita semua sekarang ini mau secara jujur bercermin diri, memohon ampun kehadirat Ilahi dan kembali bersama-sama berjuang mewujudkan Negara Idaman, Negara Utama yang Bermoral. Insya Allah.

Senin, 15 Agustus 2011

KHUTBAH IEDUL FITRI 2011

FITRAH KEMANUSIAAN
SUNNATULLAH DALAM KEHIDUPAN
BERBEDA UNTUK BERSATU
BERSATU KARENA  BERBEDA
Oleh: Didin Fahrudin, S.Sos.I., M.Pd.I.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ ,اَللهُ أَكْبَرُ,
 اَللهُ أَكْبَرُ ,اللهُ أَكْبَرُ ,اَللهُ أَكْبَرُ ,
اَللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ, اَللهُ أَكْبَرُ, وَللهِ الْحَمْدُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاَ. لاَ اِلَهَ إِلاّاللهُ وَلاَ نَعْبُدُ اِلاَّ اِيَّاهُ مخُلْصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلكَافِرُوْنَ.  لاَ اِلَهَ إِلاّ اللهُ وَحْدَهُ, صَدَقَ وَعْدَهُ, وَنَصَرَ عَبْدَهُ, وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ اِلَهَ إِلاّ اللهُ وَاَللهُ أَكْبَرُ ,اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.
الحمْدُ ِللهِ جَعَلَ اْلأَعْيَادِ مُوْسمًِا ِللْخَيْرَاتِ وَجَعَلَ لَنَا مَا فِى اْلأَرْضِ جمَيْعًا لِلْعِمَارَةِ وَزُرُعِ الحْسَنَةِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ الله ُ وَحْدَهُ َلا شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ اْلكَرِيْمِ سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِيْهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ, فَيَا عِبَادَ الله إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ, وَاعْلَمُوْا اَنَّ يَوْمِكُمْ هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ وَهُوَ الْعِيْدِ اْلمُبَارَكَ اَحَلَّ اللهُ فِيْهِ لَكُمُ الطَّعَامِ وَحَرَّمَ الصِّيَامِ
اَعُوْ ذُ ِباللهِ مِنَ الشَّيْطَا نِ الرَّ جِيْمِ ... وَاعْتَصِمُوْا ِبحَبْلِ اللهِ جمَِيْعًا وَّلاَ تَفَرَّقُوْا  وَاذْكُرُوْا ِنعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ  اِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءًا فَأَ لَّفَ بَيْنَ قُلوُ بِكُمْ فَأَ صْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ اِ خْوَا نًا 
هَدَ انِيَ اللهُ وَ اِيَّا كُمْ مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ المْسُلْمَِا تِ رَحِمَكُمُ الله

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Allah Maha Besar, besar kekuasaan dan kekuatan Nya, besar rahmat dan maghfiroh Nya. Kebesaran Allah tiada terbatas, keagungan Nya berada pada posisi teratas, kekuatan dan kekuasaan Nya maha luas. Berkat rahmat dan maghfiroh Nya, pada hari ini kita bisa berkumpul bersama dalam suasana Iedul Fitri, hari yang amat mulya dan sangat suci, karena kita berkesempatan kembali, dari perjuangan mempertahankan jati diri kemanusiaan sesuai tuntutan hati nurani. Rahmat Allah yang maha besar telah dilimpahkan kepada kita selama satu bulan Ramadhan, bulan yang mengandung nilai-nilai kebajikan lebih mulia dari 1000 bulan, kira-kira 83 tahun atau kurang lebih 30 ribu hari. Berbahagialah ummat  Islam yang beriman, yang telah dapat memanfaatkan kehadiran bulan suci Ramadhan, dengan berpuasa disertai amal kebajikan. Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an yang menjadi pedoman bagi segenap ummat manusia semesta alam.

شَهْرُ رَمَضَا نَ الَّذِىْ أُ نْزِلَ فِيْهِ الْقُرْ آ نُ هُدً ى للِنَّا سِ

Al- Qur’an yang diturunkan Allah pada bulan suci Ramadhan, memberikan gambaran kepada kita akan luasnya ajaran Islam. Al- Qur’an,  dapat menjadi petunjuk bagi manusia berbagai bangsa dari seluruh dunia. Siapapun manusianya, dari manapun datangnya mermpunyai hak yang sama untuk memperoleh bimbingan dan petunjuk Al- Qur’an, sehingga ajaran Islam dirasakan manfaatnya oleh semua ummat manusia penduduk bumi ciptaan Tuhan. Ummat Islam yang berpedoman pada Al- Qur’an  akan selalu melakukan tindakan terpuji sesuai perilaku Nabi, yang memberikan rahmat bagi segenap isi alam.
 وَمَا أَرْسَلْنَاكَ اِلاَّ رَحمَْةً لِلْعَا لمَِينَ   
Globalnya ayat-ayat Al- Qur’an serta universalnya agama Islam memberikan peluang bagi para ahli untuk menafsirkan Al- Qur’an sesuai bidang ilmu yang dimiliki. Peluang ini melahirkan konsekuensi munculnya perbedaan pendapat, perbedaan faham karena berbeda penafsiran, berbeda latar belakang ilmu pengetahuan dan berbeda latar belakang budaya, sehingga menimbulkan multi tafsir yang bersifat interpratable. Karena itulah secara empirik kita menyaksikan banyak kitab tafsir, yang semuanya disusun oleh para ahli tafsir. Di antara para penafsir itu mungkin terdapat perbedaan, dan kita tidak bisa menganggap hanya satu tafsir yang paling benar. Yang jelas paling benar hanyalah Allah yang memiliki firman-Nya, sebab itu dengan kerendahan hati kita menyebut “Wallahu a’lamu bimuroodih”  hanya Allah yang mengetahui maksud sesungguhnya. Kita hanya bisa menafsirkan berdasarkan kemampuan akal fikiran yang terbatas, dengan ilmu yang sedikit. Sebab itu kita tidak perlu sombong, mengaku diri paling pinter, paling benar atau paling sah dalam urusan ibadah.
Ketika terjadi perbedaan pendapat dalam menentukan awal Ramadhan dan 1 Syawwal misalnya, seharusnya ummat Islam lebih mengedepankan syiar persatuan dan kebersamaan ummat, daripada masing-masing mempertahankan “egoisme” pendapat, hasil lajnah golongan yang belum tentu mutlak benar dan tepat. Karena dua metode yang digunakan, baik Hisab maupun Rukyat merupakan bentuk ijtihad manusiawi yang dibatasi oleh kemampuan akal, kondisi geografis serta latar belakang ilmu pengetahuan yang sangat terbatas. Padahal Islam bersifat universal, dapat diterapkan untuk ummat Islam seluruh dunia, yang belum tentu sama waktunya, belum tentu juga sama perhitungannya, juga belum tentu sama bisa melihat hilalnya. Jika setiap golongan atau organisasi Islam di Indonesia, berwawasan luas dengan memperhatikan nilai manfaat kebersamaan dan persatuan, meskipun berbeda organisasi, meninggalkan taklid buta, menyerahkan masalah agama kepada Kementerian Agama sebagai wakil pemerintah, berdialog serta bermusyawarah dengan bersikap adil dan obyektif terhadap pendapat orang lain, mestinya tidak harus selalu terjadi pertentangan dalam menetapkan 1 Syawwal, yang cenderung membingungkan masyarakat awam. Sesungguhnya Allah telah memberikan peluang terbuka untuk bermusyawarah agar bisa ditemukan solusi terbaik, dengan cara menyempurnakan jumlah bilangan puasa kita (Walitukmilul ‘iddata walitukabbirullaha ‘alaa maa hadaakum, wala’allakum tasykuruun).
Dalam konteks inilah ummat Islam harus menyadari bahwa ternyata perbedaan itu tidak bisa dihindari, karena pada hakikatnya perbedaan merupakan fitrah kemanusiaan, sunnatullah dalam kehidupan; tetapi tidak harus selalu bertentangan. Berbeda untuk bersatu, dan kita harus bersatu karena kita saling berbeda. Berbeda cara pandang terhadap ajaran Islam yang bersumber dari Al- Qur’an merupakan keniscayaan, bukan merupakan pertentangan. Berbeda untuk bersatu, karena pada dasarnya perbedaan dalam Islam itu adalah rahmat, jika masing-masing pihak bisa saling menghargai dan menghormati pendapat. Kiblatnya sama, syahadatnya sama, shalat lima waktunya sama, hanya mungkin berbeda cara serta penafsiran dan pemahamannya, berbeda organisasi, partai, golongan dan madzhab yang diikutinya. Justru keadaan berbeda itulah seharusnya, yang menyebabkan kita terdorong untuk bersatu, karena fitrah kemanusiaan sunnatullah dalam kehidupan. Secara sosiologis, tidak ada manusia di muka bumi ini yang bisa hidup sendiri, tanpa ada orang lain yang berbeda, sehingga kita bisa saling mengisi dan melengkapi kebutuhan, saling memberi dan menerima jika ada kekurangan.
Ayat-ayat Al- Qur’an yang bersifat global, ditujukan untuk seluruh ummat manusia di manapun tinggalnya, apapun suku bangsanya, darimanapun asal negaranya.  Ayat-ayat Al- Qur’an yang diturunkan Allah swt pada bulan suci Ramadhan, berlaku untuk seluruh ummat manusia, sesuai dengan ungkapan dalam Surat Al- Baqarah 185. Globalitas Al- Qur’an, mampu menembus semua manusia berbagai bangsa dan budaya, dari berbagai negara dan belahan dunia, aneka warna kulit dan bahasa  sepanjang masa. Seluruh ummat manusia mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan hidayah dari Al- Qur’an, sehingga mereka memperoleh rahmat dengan mempelajari Al- Qur’an, berpedoman pada Al- Qur’an dan berperilaku sesuai tuntunan Al- Qur’an. Al- Qur’an disediakan Allah bukan hanya untuk orang-orang Arab, walaupun ayat-ayat Al- Qur’an berbahasa Arab, karena Nabi Muhammad dan lingkungan kaumnya orang-orang Arab, diturunkan di negeri Arab (Bi lisaani qaumih), tetapi tidak satupun ayat Al- Qur’an mengandung panggilan untuk orang Arab (( يا أ يها ألعر بي . Panggilan ditujukan secara global untuk semua ummat manusia  يا أ يها النا س)). Al- Qur’an secara tekstual dan kontekstual, sebagai kitab suci ummat Islam bersifat universal. Di antara kitab-kitab Allah itu, hanya kitab suci Al- Qur’an, yang sampai hari ini di manapun adanya tetap berbahasa Arab. Meskipun demikian, ayat-ayat Al- Qur’an yang berbahasa Arab itu, dapat dibaca dengan mudah oleh orang yang bukan Arab, bahkan bisa dihafal oleh banyak manusia yang bukan Arab. Sebab itu layak jika Al- Qur’an berfungsi sebagai petunjuk bagi ummat manusia (هدى للناس), untuk mengembangkan fitrah kemanusiaan yang mengandung dua potensi besar, yakni potensi akal dan hati nurani.
    Potensi akal, adalah fitrah dari Allah berupa kekuatan besar yang diberikan kepada setiap manusia. Sehingga manusia sesuai dengan kehendak Allah, layak menempati posisi sebagai Khalifah di muka bumi.
وَاِذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلاَ ئِكَةِ  انِّيْ جَا عِلٌ فِى اْلاَ رْضِ خَلِيْفَةً
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (QS Al-Baqarah, 2:30)
Fitrah manusia berupa akal, adalah potensi besar yang mendorong manusia untuk bisa berfikir sehat dan rasional. Dengan akal pemberian Allah manusia seharusnya dapat memilah dan memilih mana nilai-nilai kehidupan yang bermanfaat dan mudharrat, mana amal yang baik dan mana yang buruk, mana yang halal dan mana yang haram. Kemampuan akal manusia juga telah mendorong lahirnya berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga sesuai kedudukannya sebagai khalifah, manusia dapat menjadi manajer bumi, mengelola dan mengatur sumber daya alam ciptaan Tuhan. Dengan akal sehat, manusia mampu melaksanakan amanat, sehingga ilmu pengetahuan dan tehnologi yang dimilikinya bisa mendatangkan rahmat, memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. Inilah gambaran orang-orang beriman yang telah berhasil menunaikan ibadah puasa dengan selamat, karena puasanya bermakna dan bermanfaat. Kesehatan akal dan hati, akan memberikan dukungan terhadap sehatnya tubuh manusia, karena kebiasaan beramal baik, bersikap, bertutur kata dan berperilaku sehat, terhindar dari perbuatan jahat dan maksiat. Sebaliknya jika potensi akal dan hati tidak berfungsi dengan baik, maka  fitrah kemanusiaan akan jatuh  terpuruk, bahkan lebih buruk dari perilaku hewan. Kelompok manusia saling “menerkam”, mengancam, menikam dan menyakitkan. Satu sama lain saling menjatuhkan dan menyalahkan, hanya karena berbeda faham dan berbeda golongan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamd.
    Dalam kesempatan menikmati hari raya Iedul Fitri, 1 Syawwal 1432 Hijriyah, sambil membesarkan dan mengagungkan asma Allah, bertakbir, bertasbih dan bertahmid, marilah kita membangun kembali kebersamaan meskipun kita saliung berbeda sesuai fitrah kemanusiaan. setelah kita berjuang selama satu bulan Ramadhan, mengendalikan berbagai macam keinginan duniawi. Tantangan globalisasi di era informasi, telah membuat keluarga kita banyak terjebak dalam kehidupan hedonisme (sikap serta perilaku hidup berlebihan,  berhura-hura, berfoya-foya terlena dengan kesenangan dunia)  dan konsumerisme (sikap serta perilaku hidup boros)  yang cenderung mengarah pada materialisme budaya. Budaya materialisme yang menganggap kebahagiaan selalu diukur dengan kesenangan duniawi, secara bertahap akan memalingkan kita dari kekuatan iman, menjauhkan kita dari nilai-nilai spiritual yang sakral serta lupa akan datangnya kehidupan hari akhirat yang lebih kekal. Kembali pada fitrah kemanusiaan, dengan modal potensi dasar berupa akal sehat dan hati nurani yang bersih,  berarti mewujudkan tindakan nyata, dalam bentuk sikap, ucapan maupun perbuatan, sesuai tuntunan Al- Qur’an.
Hati nurani manusia adalah fitrah karunia Allah, yang sulit dinilai dengan materi apapun juga, tidak bisa dihargai dengan uang dan tidak bisa dibeli. Karena itu ketika seseorang melakukan perbuatan dosa, sesungguhnya hati nuraninya merasa gelisah dan resah, ada perasaan yang menghantui dirinya, karena hati nurani sebenarnya menolak semua perbuatan dosa yang dilakukan manusia. Hati nurani adalah potensi dasar yang dimiliki manusia sebagai pemberian Allah, sehingga manusia bisa merasakan nikmat serta lika-likunya kehidupan, manusia bisa merasakan suka dukanya perjuangan menjadi mahluk penghuni bumi. Potensi hati telah mendorong manusia untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan sesuai keinginan hatinya. Ingin hidup layak, ingin rumah megah, ingin isteri cantik, ingin duit banyak, ingin pangkat dan jabatan, ingin mobil dan perhiasan mewah dan berbagai keinginan lain yang cenderung bersifat duniawi. Semua keinginan itu hakikatnya adalah fitrah kemanusiaan, sunnatullah dalam kehidupan, sesuai firman Allah dalam al- Qur’an Surat Ali Imran (3 : 14) :
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ   ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَوةِ الدُّنْيَا   وَاللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ
Artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali Imran, 3 : 14)  

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd, segala puji bagi Allah yang telah memberikan karunia hati nurani, sehingga manusia mempunyai nafsu keinginan.
Keinginan, itulah perasaan yang tumbuh dalam hati manusia, sehingga manusia terdorong melakukan tindakan bervariasi untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Ketika manusia berusaha keras untuk mengejar keinginan, hakikatnya merupakan fitrah sesuai hak azasi manusia. Asalkan tidak berlebihan, melampaui batas kemampuan, maka keinginan seseorang dalam batas kemanusiaan masih dianggap manusiawi. Dalam konteks inilah ibadah puasa telah berperan positif untuk mengendalikan berbagai macam keinginan yang berlebihan. Sesuai dengan maknanya, puasa berarti “imsaak” (rem) yang mengendalikan agar seseorang mampu menahan diri dari segala yang membukakan, rem makan, rem minum, rem sikap, rem nafsu, rem perkataan dan tindakan, agar tidak berlebihan dan melampaui batas. Ketika  keinginan menggebu penuh nafsu, puasa mengendalikan orang beriman tidak bertindak keliru. Ketika nafsu amarah berkobar membara hanya karena perbedaan pendapat dan beda faham, puasa orang beriman mampu mengendalikan  tindakan anarkis yang merusak dan merugikan persatuan. Allah tidak senang kepada manusia yang berlebih-lebihan atau melampaui batas dalam tindakan, apalagi jika menimbulkan kerusakan.
وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلاَ تُسْرِفُوْا اِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ
makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS Al-‘Araaf, 7:31)
وَلاَ تَعْتَدُوْا اِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ الْمُعْتَدِ يْنَ
dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS Al-Maaidah, 5: 87)
وَلاَ تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْأَرْضِ اِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ الْمُفْسِدِ يْنَ.
dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Al-Qashash, 28:77)
Dengan demikian, hakikat puasa  adalah mengandung makna “shaum”  (benteng atau pagar) yang bisa membelenggu iblis sehingga tidak mampu menggoda manusia. Berbagai godaan iblis yang  atang, ketika mendorong manusia untuk melakukan tindakan berlebihan, tidak akan mampu menerobos benteng yang kuat serta pagar yang rapat, jika puasa kita benar-benar bermakna. Selama upaya memenuhi kebutuhan tidak menyimpang dari norma dan nilai-nilai ajaran agama, terlebih dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup keluarga secara halal, maka tindakan manusia dapat dikatagorikan ibadah. Mencintai seorang wanita dengan niat untuk menikahinya sesuai sunnah Rasulullah adalah ibadah, keinginan mempunyai anak dan keturunan sebagai kelangsungan generasi manusia adalah ibadah, usaha untuk mencari kehidupan duniawi agar dapat beramal baik, bersodaqoh, berzakat serta menunaikan ibadah haji ke tanah suci adalah ibadah, menumbuhkan etos kerja secara produktif agar timbul semangat mencari nafkah serta memberi manfaat bagi orang banyak adalah ibadah. Itulah fitrah kemanusiaan yang harus dibangun dan dikembalikan, sesuai dengan potensi akal dan hati nurani yang telah dikaruniakan Allah kepada manusia. Meskipun Allah memerintahkan agar manusia secara spiritual menekuni ibadah, melalui do’a dan dzikir demi kebahagiaan akhirat, namun pada sisi lain Allah juga menegaskan perlunya pendekatan material selama hidup di dunia, agar tidak hidup terlantar dan menjadi beban masyarakat.
وَابْتَغِ فِيْمَا أَتَكَ اللهُ  الدَّارُاْلاَخِرَةَ وَلاَ تَنْسَى نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّ نْيَا 
Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi …(QS Al-Qashshash, 28: 77)
Hidup di akhirat sebagai tujuan akhir kehidupan manusia bersifat kekal dan abadi, kehidupan yang lebih baik dan utama untuk setiap hamba Allah. Untuk memperoleh kebahagiaan akhirat itu, Allah memberikan kesempatan kepada manusia “bersawah ladang atau bercocok tanam” di dunia, karena hakikat kehidupan dunia adalah  مزرعة الا خرة    . Manusia yang rajin beramal baik, berarti memelihara tanaman yang baik, maka di hari akhirat nanti akan menuai hasil panen yang baik, berupa kebahagiaan hakiki di dalam Surga. Sedangkan manusia yang senang berbuat jahat, beramal buruk serta gemar melakukan maksiat, maka di hari akhirat nanti akan memetik hasil panen yang buruk pula, berupa penderitaan yang kekal di dalam Neraka.
Kebiasaan beramal baik selama bulan Ramadhan, marilah kita lanjutkan menjadi tradisi yang bermakna dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi melaksanakan ibadah tepat pada waktunya, shalat berjamaah, membaca al- Qur’an, dzikir dan istighfar, menyantuni anak yatim, memberi makan orang miskin, bershodaqoh dan saling besilaturrahmi, membangun kebersamaan dan solidaritas, menghindari permusuhan dan pertentangan,  merupakan wujud kesalehan sosial yang perlu ditumbuh suburkan dalam kehidupan bermasyarakat. Kesempatan berharga untuk beramal adalah pada masa hidup sekarang ini, sebelum kita mati meninggalkan dunia; pada masa sehat seblum kita menderita sakit; pada masa muda sebelum kita lanjut usia; pada masa sempat sebelum kita merasa sempit karena kesibukan kerja.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd
Maghfiroh Allah yang maha luas, telah ditawarkan kepada kita yang ingin bertaubat memohonkan ampunan Nya. Melalui ibadah, do’a dan dzikir selama bulan puasa, kita mempunyai peluang untuk membaca diri, agar mau mengakui berbagai kesalahan, menyadari berbagai kekeliruan serta berniat usaha untuk memperbaiki sikap dan perbuatan di masa datang. Semoga Allah swt. senantiasa memberikan bimbingan dan hidayah kepada kita semua, sehingga kita selalu berada di jalan yang benar, jalan lurus mengikuti fitrah akal yang sehat serta hati nurani yang jujur dan taat. Terhindar dari pertentangan dan permusuhan diantara sesama ummat, hanya karena kita saling berbeda pendapat, amiin ya rabbal ‘aalamiin.

جَعَلَ اللهُ لَنَا مِنَ اْلأَمِنِيْنَ وَاْلعَائِدِيْنَ وَاْلفَائِزِيْنَ وَأَدْخِلْنَا فِيْ زَمَرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ


Khutbah kedua

اللهُ أَكْبَر, اللهُ أَكْبَر, اللهُ أَكْبَر, اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَر, وَِللهِ الْحَمْدُ. الْحَمْدُ للهِ الَّذِى لَهُ مَا فِى السَّمَوَاتِ وَمَا فِى الأَرْضِ  وَلَهُ الْحَمْدُ فِى الأَخِرَةِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ,  فَيَا عِبَادَ اللهِ,  أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فِى كُلِّ وَقْتٍ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. فقال تعالى: إِنَّ اللهَ وَمَلَئِكَتَهُ  يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىِّ,  يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَات. اللَّهُمَّ أَنْزِلِ الرَّحْمَةَ عَلَى السَّلاَطِيْنَ الْكِرَامِ وَوُلاَةِ الْمُسْلِمِيْنَ الْعِظَامِ, الَّذِيْنَ قَضَوْ بِالْحَقِّ وَبِهِ كَانُوا يَعْدِلُوْنَ   اللَّهُمَّ اجْعَلْ وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ طَيِّبَةً آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً رَخِيَّةً. رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا  بِالْحَّقِ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. رَبَّنَا لاَتُزِعْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً, إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا آتِنَا فىِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ, إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ, وَإِيْتَآئِ ذِى الْقُرْبىَ, وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْىِ, يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ, وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ, وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ, وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ, وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.  اللهُ أَكْبَرْ, اللهُ أَكْبَرْ, اللهُ أَكْبَرْ, لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرْ, اللهُ أَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ.

Senin, 11 Juli 2011

Hari Ini Milik Anda

Jika  kamu  berada  di  pagi  hari,  janganlah  menunggu  sore  tiba.  Hari inilah yang akan Anda jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala  kebaikan  dan  keburukannya,  dan juga bukan  esok hari yang belum tentu datang. Hari yang saat ini mataharinya menyinari Anda, dan siangnya menyapa Anda inilah hari Anda.

Umur  Anda,  mungkin tinggal hari ini.  Maka,  anggaplah masa hidup Anda hanya hari ini,  atau seakan-akan Anda dllahirkan hari ini dan akan mati  hari  ini  juga.  Dengan  begitu,  hidup  Anda  tak  akan  tercabik-cabik diantara  gumpalan  keresahan,  kesedihan  dan  duka  masa  lalu  dengan bayangan masa depan yang penuh ketidakpastian dan acapkali menakutkan.

Pada  hari ini pula,  sebaiknya  Anda  mencurahkan  seluruh perhatian, kepedulian  dan  kerja  keras.  Dan  pada  hari  inilah,  Anda  harus  bertekad mempersembahkan kualitas  shalat yang  paling  khusyu',  bacaan  al-Qur'an yang sarat tadabbur, dzikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal,  keindahan dalam akhlak,  kerelaan dengan semua yang Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga,  serta perbuatan baik terhadap  sesama.

Pada  hari  dimana  Anda  hidup  saat  inilah  sebaiknya  Anda  membagi waktu dengan bijak. Jadikanlah  setiap  menitnya laksana ribuan tahun dan setiap  detiknya  laksana  ratusan  bulan.  Tanamlah  kebaikan  sebanyak- banyaknya pada hari itu. Dan,  persembahkanlah  sesuatu yang paling indah untuk hari  itu.   Ber-istighfar-lah   atas  semua  dosa,  ingatlah  selalu  kepada- Nya, bersiap-siaplah untuk sebuah perjalanan menuju alam keabadian, dan nikmatilah hari ini dengan segala kesenangan dan kebahagiaan!  Terimalah rezeki, isteri, suami, anak-anak, tugas-tugas, rumah, ilmu, dan jabatan Anda hari  dengan  penuh keridhaan.

{Maka berpegangteguhlah dengan apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang yang bersyukur.} (QS. Al-A'raf: 144)

Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan, kemarahan, kedengkian dan  kebencian.
Jangan lupa,  hendaklah Anda  goreskan pada dinding hati Anda  satu kalimat (bila perlu Anda tulis pula di atas meja kerja Anda): Harimu adalah hari ini.  Yakni, bila hari ini Anda dapat memakan nasi hangat yang harum baunya,  maka  apakah nasi basi yang telah Anda makan kemarin atau nasi hangat  esok hari  (yang belum  tentu  ada)  itu  akan merugikan Anda?

Jika Anda  dapat minum  air jernih dan  segar hari ini,  maka mengapa And a  harus  bersedih  atas  air  asin  yang  And a  minum  kemarin,  atau mengkhawatirkan air hambar dan panas esok hari yang belum tentu terjadi?

Jika Anda percaya pada diri sendiri, dengan semangat dan tekad yang kuat  Anda,  maka  akan  dapat  menundukkan  diri  untuk  berpegang  pada prinsip: aku hanya akan hidup hari ini. Prinsip inilah yang akan menyibukkan diri Anda setiap detik untuk selalu memperbaiki keadaan, mengembangkan semua potensi,  dan mensucikan setiap  amalan.

Dan  itu,  akan  membuat  Anda  berkata  dalam  hati,  "Hanya  hari  ini aku  berkesempatan  untuk  mengatakan  yang  baik-baik  saja.  Tak  berucap kotor dan jorok yang menjijikkan,  tidak akan pernah mencela, menghardik dan  juga  membicarakan  kejelekan  orang  lain.   Hanya  hari  ini  aku berkesempatan  menertibkan  rumah  dan  kantor  agar  tidak  semrawut  dan berantakan.  Dan  karena  hanya  ini  saja  aku  akan  hidup,  maka  aku  akan memperhatikan kebersihan tubuhku, kerapian penampilanku, kebaikan tutur kata  dan  tindak  tandukku."

Karena  hanya  akan  hidup  hari  ini,  maka  aku  akan  berusaha  sekuat tenaga  untuk taat kepada Rabb,  mengerjakan shalat sesempurna mungkin, membekali  diri  dengan  shalat-shalat  sunah nafilah,  berpegang  teguh  pada al-Qur'an,  mengkaji  dan mencatat  segala  yang bermanfaat.

Aku hanya akan hidup hari ini,  karenanya aku akan menanam dalam hatiku semua nilai keutamaan dan mencabut darinya pohon-pohon kejahatan berikut ranting-rantingnya yang berduri,  baik sifat  takabur,  ujub,  riya',  dan buruk  sangka.

Hanya  hari  ini  aku  akan  dapat  menghirup  udara  kehidupan,  maka aku  akan berbuat baik kepada orang lain dan mengulurkan  tangan kepada siapapun. Aku akan menjenguk mereka yang sakit, mengantarkan jenazah, menunjukkan jalan yang benar  bagi yang  tersesat,  memberi  makan  orang kelaparan,  menolong  orang yang  sedang kesulitan,  membantu yang  orang dizalimi,  meringankan  penderitaan  orang  yang  lemah,  mengasihi  mereka yang  menderita,  menghormati  orang-orang  alim,  menyayangi  anak  kecil, dan berbakti kepada  orang  tua.

Aku hanya akan hidup hari ini, maka aku akan mengucapkan, "Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai,  tenggelamlah seperti mataharimu. Aku tak akan pernah menangisi kepergianmu, dan kamu tidak akan pernah melihatku  termenung  sedetik  pun  untuk  mengingatmu.  Kamu  telah meninggalkan kami semua,  pergi dan tak pernah kembali lagi."

"Wahai masa depan,  engkau masih dalam kegaiban.  Maka,  aku tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Aku pun tak bakal memburu sesuatu yang belum tentu ada, karena esok hari mungkin  tak  ada  sesuatu.  Esok  hari  adalah  sesuatu  yang  belum diciptakan  dan  tidak  ada  satu  pun darinya yang  dapat  disebutkan."

"Hari  ini  milik  Anda",  adalah  ungkapan  yang  paling  indah  dalam
"kamus  kebahagiaan".  Kamus  bagi mereka yang menginginkan kehidupan yang paling indah dan menyenangkan.


(DR. Aidh Al-Qarni, Laa Tahzan, 2005: 6)

Minggu, 03 Juli 2011

Abu Nawas Mendemo Tuan Kadi


Pada suatu sore, ketika Abu Nawas sedang mengajar murid-muridnya. Ada dua
orang tamu datang ke rumahnya. Yang seorang adalah wanita tua penjual kahwa, sedang satunya lagi adalah seorang pemuda berkebangsaan Mesir.
Wanita tua itu berkata beberapa patah kata kemudian diteruskan dengan si
pemuda Mesir. Setelah mendengar pengaduan mereka, Abu Nawas menyuruh
murid-muridnya menutup kitab mereka.
"Sekarang pulanglah kalian. Ajak teman-teman kalian datang kepadaku pada
malam hari ini sambil membawa cangkul, penggali, kapak dan martil serta
batu."
Murid-murid Abu Nawas merasa heran, namun mereka begitu patuh kepada Abu
Nawas. Dan mereka merasa yakin gurunya selalu berada membuat kejutan dan
berddfa di pihak yang benar.
Pada malam harimya mereka datang ke rumah Abu Nawas dengan membawa
peralatan yang diminta oleh Abu Nawas.
Berkata Abu Nawas,"Hai kalian semua! Pergilah malam hari ini untuk merusak
Tuan Kadi yang baru jadi."
"Hah? Merusak rumah Tuan Kadi?" gumam semua muridnya keheranan.
"Apa? Kalian jangan ragu. Laksanakan saja perintah gurumu ini!" kata Abu
Nawas menghapus keraguan murid-muridnya. Barangsiapa yang mencegahmu,
jangan kau perdulikan, terus pecahkan saja rumah Tuan Kadi yang baru. Siapa
yang bertanya, katakan saja aku yang menyuruh merusak. Barangsiapa yang
hendak melempar kalian, maka pukullah mereka dan iemparilah dengan batu."
Habis berkata demikian, murid-murid Abu Nawas bergerak ke arah Tuan Kadi.
Laksana demonstran mereka berteriak-teriak menghancurkan rumah Tuan Kadi.
Orang-orang kampung merasa heran melihat kelakukan mereka. Lebih-lebih
ketikatanpa basa-basi lagi mereka iangsung merusak rumah Tua Kadi. Orang-orang
kampung itu berusaha mencegah perbuatan mereka, namun karena jumlah
murid-murid Abu Nawas terlalu banyak maka orang-orang kampung tak berani
mencegah.
Melihat banyak orang merusak rumahnya, Tuan Kadi segera keluar dan
bertanya,"Siapa yang menyuruh kalian merusak rumahku?"
Murid-murid itu menjawab,"Guru kami Tuan Abu Nawas yang menyuruh kami!"
Habis menjawab begitu mereka bukannya berhenti malah terus menghancurkan
rumah Tuan Kadi hingga rumah itu roboh dan rata dengan tanah.
Tuan Kadi hanya bisa marah-marah karena tidak orang yang berani membelanya
"Dasar Abu Nawas provokator, orang gila! Besok pagi aku akan melaporkannya
kepada Baginda."
Benar, esok harinya Tuan Kadi mengadukan kejadian semalam sehingga Abu
Nawas dipanggil menghadap Baginda.
Setelah Abu Nawas menghadap Baginda, ia ditanya. "Hai Abu Nawas apa
sebabnya kau merusak rumah Kadi itu"
Abu Nawas menjawab,"Wahai Tuanku, sebabnya ialah pada sliatu malam
hamba bermimpi, bahwasanya Tuan Kadi menyuruh hamba merusak rumahnya.
Sebab rumah itu tidak cocok baginya, ia menginginkan rumah yang lebih bagus
lagi.Ya, karena mimpi itu maka hamba merusak rumah Tuan Kadi."
Baginda berkata," Hai Abu Nawas, bolehkah hanya karena mimpi sebuah
perintah dilakukan? Hukum dari negeri mana yang kau pakai itu?"
Dengan tenang Abu Nawas menjawab,"Hamba juga memakai hukum Tuan Kadi
yang baru ini Tuanku."
Mendengar perkataan Abu Nawas seketika wajah Tuan Kadi menjadi pucat. la
terdiam seribu bahasa.
"Hai Kadi benarkah kau mempunyai hukum seperti itu?" tanya Baginda.
Tapi Tuan Kadi tiada menjawab, wajahnya nampak pucat, tubuhnya gemetaran
karena takut.
"Abu Nawas! Jangan membuatku pusing! Jelaskan kenapa ada peristiwa seperti
ini !" perintah Baginda.
"Baiklah ...... "Abu Nawas tetap tenang. "Baginda.... beberapa hari yang lalu
ada seorang pemuda Mesir datang ke negeri Baghdad ini untuk berdagang
sambil membawa harta yang banyak sekali. Pada suatu malam ia bermimpi
kawin dengan anak Tuan Kadi dengan mahar (mas kawin) sekian banyak. Ini
hanya mimpi Baginda. Tetapi Tuan Kadi yang mendengar kabar itu langsung
mendatangi si pemuda Mesir dan meminta mahar anaknya. Tentu saja pemuda
Mesir itu tak mau membayar mahar hanya karena mimpi. Nah, di sinilah
terlihat arogansi Tuan Kadi, ia ternyata merampas semua harta benda milik
pemuda Mesir sehingga pemuda itu menjadi seorang pengemis gelandangan dan
akhirnya ditolong oleh wanita tua penjual kahwa."
Baginda terkejut mendengar penuturan Abu Nawas, tapi masih belum percaya
seratus persen, maka ia memerintahkan Abu Nawas agar memanggil si pemuda
Mesir. Pemuda Mesir itu memang sengaja disuruh Abu Nawas menunggu di
depan istana, jadi mudah saja bagi Abu Nawas memanggil pemuda itu ke
hadapan Baginda.
Berkata Baginda Raja,"Hai anak Mesir ceritakanlah hal-ihwal dirimu sejak
engkau datang ke negeri ini."
Ternyata cerita pemuda Mesir itu sama dengan cerita Abu Nawas. Bahkan
pemuda itu juga membawa saksi yaitu Pak Tua pemilik tempat kost dia
menginap.
"Kurang ajar! Ternyata aku telah mengangkat seorang Kadi yang bejad
moralnya."
Baginda sangat murka. Kadi yang baru itu dipecat dan seluruh harta bendanya
dirampas dan diberikan kepada si pemuda Mesir.
Setelah perkara selesai, kembalilah si pemuda Mesir itu dengan Abu Nawas
pulang ke rumahnya. Pemuda Mesir itu hendak membalas kebaikan Abu Nawas.
Berkata Abu Nawas,"Janganlah engkau memberiku barang sesuatupun
kepadaku. Aku tidak akan menerimanya sedikitpun jua."
Pemuda Mesir itu betul-betul mengagumi Abu Nawas. Ketika ia kembali ke
negeri Mesir ia menceritakan tentang kehebatan Abu Nawas itu kepada
penduduk Mesir sehingga nama Abu Nawas menjadi sangat terkenal.

Sabtu, 02 Juli 2011

Manajemen Marah

Amarah adalah sifat alamiah yang dimiliki setiap manusia. Begitu kata Prof. DR. Dr. Dadang Hawari, Sp.KJ. Amarah manusia muncul karena adanya dorongan agresif yang lazim disebut dengan istilah human agressive.  Dorongan rasa marah ini bisa saja muncul karena sesuatu terjadi di luar dugaan atau di luar perhitungan. Harapan yang tinggi sementara kenyataannya tidak demikian juga bisa menyebabkan kekecewaan dan dapat memicu rasa marah.

Sejalan dengan dengan pandangan Dadang Hawari, psikolog E. Kristi Poerwandari dari Bagian Psikologi Klinis, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, mendefinisikan marah sebagai salah satu emosi.  Secara garis besar dorongan marah itu disebabkan oleh dua faktor. Pertama, faktor internal (dari dalam diri). Ada konflik internal yang tidak bisa terselesaikan dan akhirnya keluar dalam bentuk marah.  Misalnya Anda merasa gusar karena tak bisa bangun pagi sehingga selalu terlambat rapat dengan klien. Kedua, faktor eksternal. Misalnya, ada provokasi dari luar. 

Apapun penyebabnya, internal atau eksternal, marah merupakan emosi yang tersalur melalui sinyal pengantar syaraf atau neurotransmitter, pada sel-sel syarat pusat otak. Sinyal ini diteruskan ke kelenjar endokrin suprarenalis penghasil hormon adrenalin.  Akibatnya tekanan darah naik.  Mukanya menjadi merah, jantung berdebar-debar kencang mengikuti peningkatan hormon adrenalin tadi.

Biasanya dorongan untuk marah muncul untuk survival, atau mempertahankan hidup.  Orang tidak akan diam saja manakala dirinya diserang atau diperlakukan tidak adil oleh pihak lain.  Secara refleks akan timbul sikap mempertahankan diri, atau yang kita sebut defense mechanism. 

Menurut Kristi, marah sering dianggap sebagai emosi yang negatif sebab marah membangkitkan toksin yang meracuni emosi, dan dapat memunculkan tindakan yang berdampak negatif, seperti melukai orang lain.  Tapi marah tidak selalu itu buruk. Bila seseorang diperlakukan tidak baik, dan dia menunjukkan reaksi marah, itu dianggap sebagai hal yang wajar.  Marah bisa dinilai positif ketika perasaan itu muncul saat melihat seseorang diperlakukan tidak adil, atau menimbulkan rasa ingin menolong.  Artinya rasa marah itu bisa mendorong seseorang melakukan hal yang positif atau yang dianggap baik.

Ketika amarah diekspresikan secara destruktif (memaki, memukul, atau merusak barang), maka marah menjadi emosi yang buruk. Lepas kendali dapat memicu perasaan frustasi, bingung, dan tidak berdaya. Banyak gangguan fisik, emosional, dan mental yang disebabkan oleh marah yang tidak terkendali. Hasilnya antara lain ketegangan di lingkungan kerja atau kekerasan dalam rumah tangga. Ekspresi marah ini juga dituding memicu kriminalitas, bahkan konflik internasional.

Jadi, kata Kristi lagi, marah akan berdampak buruk bila diungkapkan secara agresif dan berlebihan.  Lebih buruk lagi bila yang bersangkutan tidak menyadari dirinya melakukan hal yang negatif. Karena itu ia menyarankan sebaiknya amarah dikeluarkan dengan syarat:
1.      Marah haruslah karena alasan yang tepat, bukan karena faktor subyektif.  Banyak kasus kemarahan timbul di lingkungan keluarga.  Misalkan suami marah secara berlebihan karena merasa tidak dihargai oleh istrinya, padahal hanyalah pandangan subyektif sang suami.
2.      Marah haruslah terkendali.  Marah yang membabi buta, bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. 

Marah juga bisa berdampak negatif pada diri sendiri atau pada diri orang lain ketika yang bersangkutan tidak secara jujur mengakui rasa marahnya, atau memendam amarah. Marah yang tidak dikeluarkan bisa menyebabkan sakit kepala, nyeri punggung, mual, bahkan depresi. Mereka yang suka meremehkan, mengkritik, dan berkomentar sinis terhadap orang lain biasanya adalah orang yang tidak terbiasa mengekspresikan kemarahannya.

Meskipun sebaiknya rasa marah itu dilepaskan saja dan jangan disimpan, Dadang Hawari menilai pendapat ini tidak selalu baik untuk diterapkan.  “Apakah kalau marah dilepaskan lantas kita menjadi puas?  Apa bukan sebaiknya justru menyebabkan orang yang dimarahi menjadi sakit dan akhirnya menimbulkan persoalan baru ?” ujar psikiater itu.   Lalu bagaimana baiknya?  “Yang baik adalah kalau merasa marah, kita redam dan netralisir dengan diri sendiri sambil menyelesaikan pokok permasalahan yang dihadapi,” tambah Dadang.

Sebetulnya rasa marah itu bisa dikelola.  Sebagai makhluk yang beradab, manusia tentu mempunyai mekanisme pengendalian diri. Ada orang yang mampu meredam marah tapi ada juga yang tidak bisa. Kalau pengendalian dirinya lemah, maka bisa terjadi agresivitas, dimana kemarahan secara fisik maupun verbal keluar membabi buta.  Tapi orang sudah terlatih untuk bisa sabar, mekanisme internal di dalam dirinya bisa meredam emosi yang meletup-letup dan tidak terpancing untuk bertindak agresif. 

Dadang Hawari mengatakan manajemen marah ini dilakukan dengan mengedepankan rasio dari pada emosional. Seseorang yang mampu mengelola amarahnya berarti melakukan mekanisme rasionalisasi dalam tubuhnya.  Mekanisme ini mengantarkan pola pikir yang sifatnya positif sehingga bisa meredam konflik atau emosi.  Tapi rasionaliasasi ini tidak muncul begitu saja, butuh kemauan, upaya dan latihan yang keras. 

Dalam berbagai kasus, seseorang yang terbiasa marah secara agresif bisa dilatih untuk mengendalikan emosi.  Caranya dengan mencari penyebab munculnya letupan marah tersebut. Misalnya pada kasus dimana rasa marah muncul untuk menutupi rasa kurang percaya diri, terapi yang dilakukan terlebih dahulu difokuskan pada upaya membangkitkan rasa percaya diri.

Menurut Kristi, salah satu terapi yang bisa diterapkan untuk mengontrol amarah adalah dengan membuat kontrak diri. Kontrak ini berisikan perjanjian tidak akan melakukan tindakan agresif yang merugikan orang lain. Bila melanggar, yang bersangkutan dikenakan sanksi yang berat.  Substansi kontrak diri ini tidak bisa dibuat asal-asalan saja tapi harus dibahas bersama dengan psikolog. 

Sebetulnya melatih diri mengelola amarah  merupakan hal yang memang patut dilakukan, terutama untuk meningkatkan kualitas diri.  Sekarang ini kualitas manusia tidak hanya ditentukan oleh IQ (Intelligence Quotient), tapi juga oleh EQ (Emotional Quotient).


Laporan : Faizah Fauzan

 

Pakai Pendekatan Agama


Dadang Hawari selalu menilik manajemen marah dari sudut agama dengan meyakini bahwa segala sesuatu mempunyai hikmah. Menghayati ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari bisa mengasah pengendalian emosi dalam diri seseorang.  Agama apapun senantiasa mengajarkan manusia untuk bersabar diri dan bersikap toleransi antarsesama.  Ibadah puasa contohnya, ritual yang dilakukan umat muslim selama sebulan dalam setahun ini bisa dijadikan ajang melatih self control (pengendalian diri). Menurut Dadang lagi, ada dua cara yang bisa membantu seseorang mengendalikan amarahnya, yakni: bersabar  dan shalat. 


Sebelum Anda Marah


Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, menurut Kristi, ada yang perlu dilakukan sebelum mengekspresikan rasa marah:
  1. Posisikan diri sebagai obyek marah. Pantaskah saya marah dan pantaskah dia saya marahi?
  2. Berpikirlah untuk jangka panjang.  Pikirkan apa dampaknya bila emosi marah dituruti, seperti bisa merusak hubungan dengan pihak yang bersangkutan.
  3. Lakukan time out, dengan cara meninggalkan ruangan atau tempat dimana marah Anda terpicu. 
  4. Lakukan rileksasi dengan menghirup napas panjang untuk menenangkan diri. 

Selintas hal-hal di atas terdengar mudah tapi bagi meraka yang mempunyai problem dalam mengontrol rasa marahnya hal di atas cukup sulit dilakukan.

Copas From: http://hnf66.multiply.com/journal/item/10

Kamis, 30 Juni 2011

TASAWUF BAGI KAUM MUDA

Wawancara reporter majalah sufinews.com dengan Prof. DR. Ahmad Mubarok, MA
Guru Besar Psikologi Islam UI, UIN, UIA & Wakil Ketua Zawiyah Haqqani

Sudah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Negara, kekuasaan kerapkali digunakan untuk mengondisikan agar rakyat tetap berada dalam kebodohan yang berujung pada langgengnya kekuasaan, bertahannya status quo dan dominasi tak akan tergugat. Pada saat yang sama, ketika kekuasaan telah mendominasi kehidupan suatu bangsa, muncul gerakan perlawanan baik dilakukan dengan diam-diam atau secara terbuka.

Kaum muda, terutama di Indonesia, memiliki catatan yang membanggakan dalam merobohkan kemapanan kekuasaan yang menghisap darah segar anak-anak kandung ibu pertiwi. Sebut saja peristiwa Sumpah Pemuda 1928, misalnya, ia merupakan hasil gemilang kaum muda dalam membangkitkan semangat kebangsaan dan cinta tanah air, yang berlanjut pada proses lahirnya proklamasi 17 Agustus 1945.
Begitu pula dengan gerakan tasawuf (biasanya sering diidentikan dengan gerakan tarekat), ia senantiasa hadir membawa bendera perubahan dan pencerahan ketika kekuasaan, baik lokal maupun mondial, telah dijadikan alat pembodohan masal yang anti kemanusiaan dan anti ketuhanan. Sebut saja, misalnya, sikap non kooperatif yang ditunjukkan kelompok tarekat rifa'iyyah sebagai wujud penentangan penjajahan Belanda, yang berujung dibuangnya KH Ahmad Rifa'i (selaku pimpinan tarekat) ke Ambon, Mei 1859, oleh pemerintah kolonialis. Hal
yang sama juga berlaku pada Perisitwa "Pemberontakan petani Banten 1888 ", yang merupakan gerakan "massa petani" Banten yang dilandasi kesadaran tarekat dalam menghadapi kekuasaan kolonialisme Belanda yang menindas.

Dan kini, ketika kegagalan melanda manusia moderen yang tidak dapat diatasi oleh keunggulan IPTEK dan kebesaran ideologi semacam sosialisme - komunisme atau kapitalisme - liberalisme, tasawuf (atau malah gerakan tarekat) yang bersumber dari agama mulai dilirik kembali. Mereka menaruh harapan akan ditemukannya pemecahan dari problema yang muncul akibat kemajuan dunia global.

Berikut wawancara Cahaya Sufi bersama Prof. DR. Achmad Mubarok, MA seputar Tasawuf dan
Kaum Muda disertai analisa kritis atas munculnya fenomena Amrozi, AA Gym - Arifin Ilham dan Ulil Abshar Abdalah dengan JIL nya.

Apa komentar anda tentang maraknya fenomena tasawuf di Indonesia, khususnya Jakarta, akhir belakangan ini ?
Tasawuf selalu relevan di setiap zaman. Terlebih dalam dunia moderen yang yang sarat tipu daya, cinta dunia, menggunting pita dalam lipatan, musang berbulu domba, tasawuf menjadi sangat relevan. Tapi¦.

Tapi, apa ?
Anda harus melihat fenomena tersebut secara proporsional dan jangan diputus dari sejarah masuk dan sepak terjang gerakan tasawuf atau gerakan tarekat di Indonesia.

Jelasnya ?
Islam yang masuk ke Indonesia ada dalam dua format; format pertama, fiqh dan format kedua tasawuf. Tasawuf masuk ke Indonesia dalam suasana kita melawan penjajah. Sehingga sejarah tarekat di Indonesia mencatat bahwa gerakan ini juga melakukan perlawanan kepada penjajah seperti pemberontakan Garut dan Banten.

Meski demikian, harus dicatat, bahwa fungsi tarekat ketika itu cuma dijadikan benteng pertahanan saja. Gerakan tarekat hanya memberikan ketahanan untuk bertahan hidup dari penderitaan akibat penjajahan, tidak sampai berhasil membangun sebuah bangsa. Nah ini fenomena tarekat di Indonesia. Berbeda dengan gerakan tarekat di Afrika, disamping efektif untuk melawan penjajah, gerakan tarekat disana mampu melahirkan Negara Libia. Libia moderen itu dilahirkan oleh kelompok tarekat loch !?
Sesudah itu ?
10-20 tahun pasca 17 Agustus 1945, tarekat banyak dianut oleh orang-orang awam dan pedesaan. Tarekat waktu itu masih dijadikan untuk lari dari kenyataan dunia. Karenanya, meski NU (Nahdhatul Ulama) memiliki lembaga tarekat, sumbangsihnya kepada pembentukan Negara yang lebih moderen sangat minim dirasakan. Waktu itu, masih banyak orang yang berpikiran bahwa urusan Negara itu urusan orang-orang kafir. Ulama-ulama kita saat itu banyak yang terjebak pada perdebatan fiqhiyyah seperti bagaimana hukumnya memakai celana panjang, dasi dan
sebagainya.

Belakangan ini, ditengah kehidupan kaum muda muslim Indonesia muncul tiga kutub anak muda yang nampaknya tidak bertemu dalam masing-masing aksi ketiganya. Pertama, kutub Amrozi
dkk dengan JI nya. Kedua, Kutub pemikiran yang diwakili Ulil Abshar dengan JIL nya. Ketiga kutub ruhani, yang diwakili AA Gym dan Arifin Ilham,. Fenomena apa ini ?
Kategorisasi yang anda berikan itu cuma perbedaan cara berpikir saja. Amrozi c.s dengan JI nya
itu fundamentalisme aksi. Ulil dan JIL nya itu fundamentalisme pemikiran sedangkan AA. Gym dan Arifin Ilham fundamentalisme ruhani. Meski demikian kesemua mereka itu masih "mentah" dalam kutubnya masing-masing.

Jelasnya ?
Saya cuma ingin katakan bahwa dalam diri Amrozi ada dua kutub, yaitu kelemahlembutan dan kekerasan. Ia seperti lebah yang sepertinya tidak berbahaya, tetapi jika diganggu ia dengan
sangat cepat bisa menyengat musuh.

Ia sudah terlanjur terlibat dalam konflik global, tetapi secara akademik ia yang hanya droup out madrasah aliyah tak pernah bersentuhan dengan filsafat, oleh karena itu ia tidak bisa berfikir secara mendasar.
Ia selalu memusatkan diri pada panggilan jiwanya, tetapi kurang memahami peta perjuangan. Ia siap mati demi keyakinan agamanya, tetapi ia miskin pengetahuan tentang taktik dan strategi perjuangan global. Ia siap menyerang kepentingan Amerika dimanapun berada, tetapi ia tidak
bisa membedakan antara Amerika dan Australia. Ia siap membuat kalut Amerika, tetapi tidak
bisa melihat bahwa dampak negatif dari aksinya justru lebih banyak menimpa negerinya sendiri
(Indonesia) dan lebih banyak menimbulkan kesulitan bagi kaum muslimin yang dibelanya. Nah, Kondisi obyektif Amrozi ini hampir serupa dimiliki oleh teman-teman Amrozi.

Bagaimana dengan Ulil dan JIL nya ?
Menurut saya mereka tidak sabar melihat perjalanan NU (Nahdlatul Ulama). Mereka sudah kebelet lari, tapi NU (menurut anak-anak mudanya) tak beranjak setapak pun. Mereka "kesel"
dan jumping. Mereka loncat kalau tidak ke Marxisme ya ke Liberalisme. Dalam dunia intelektual mereka membentuk JIL dan dalam format politik praktis mereka membangun FORKOT.

Saya pernah mendamaikan Ulil dengan Kiyai Athian (Ketua Forum Ulama Umat Islam Bandung;
red) yang pernah menghalalkan darah Ulil. Apa kata Kiyai Athian ?, Ulil Abshar harus dihukum mati karena menghina Tuhan. Apa jawab Ulil? Saya tidak menghina Tuhan, saya mu'min, saya mencintai Islam, memeluk Islam lahir dan batin, tapi saya menghina pandangan kiyai yang memandang kiyai sendiri sebagai pandangan Tuhan. Itu yang saya hina. Pernyataan Ulil sangat substansial sekali.

Saya banyak kenal temen-temen JIL. Bersama Musdah (Siti Musdah Mulia; red) saya terlibat dalam penggodogkan Counter Legal Drafting Kompilasi Hukum Islam. Ketika banyak orang
mengkritik kedekatan saya dengan teman JIL, saya cuma menjawab; ana fiihim bal lastu minhum
(ya, saya ada bersama mereka tapi saya bukan bagian dari mereka; red)
Tapi yang ingin saya sampaikan disini bahwa apa yang diucapkan Ulil dan JIL nya bukan hal yang baru, dulu Cak Nur (Nur Kholis Madjid; red) pernah melontarkan pikiran-pikiran kontroversialnya lebih tajam dan substansiil. Bahkan sebenarnya yang disampaikan Ulil itu masih mentah, lebih matang yang pernah dilontarkan Cak Nur di era 70-an. Lihat aja, ujung- ujungnya Cak Nur sekarang lebih arif dan bisa diterima banyak orang dan sangat sufistik. Satu saat mereka (Ulil c.s; red) bakal menemukan format jiwanya sendiri.

Dengan kutub AA Gym dan Arifin Ilham bagaimana ?
Segala sesuatu ada sejarahnya. Tasawuf sebenarnya muncul sebagai solusi krisis. Pertamakali tasawuf muncul di dunia islam, ketika dunia Islam dilanda oleh materialisme, pada generasi tabi'in diperiode Umayyah. Ketika materialisme melanda sahabat dan tabi'in, maka munculah
Hasan al Basri yang menawarkan paradigma lain, lahir berikutnya al Gazali dan lain sebagainya.

Jadi setiap kali ada krisis, akan muncul sufisme. Di Indonesia juga begitu, ketika krisis melanda Indonesia 1997, maka fenomena tasawuf menjadi luar biasa, buku tasawuf dan majalah semacam Cahaya Sufi ini laku keras yang dibarengi dengan kemunculan Arifin Ilham, AA Gym dan Ary Ginanjar. Semua itu berangkat dari kebutuhan psikologis secara massal.

Saya cuma ingin menegaskan bahwa anak-anak muda yang meminati tasawuf sekarang ini masih baru dalam kerangka defensif saja. Mereka galau menjalani realitas kehidupan, kemudian
mereka menemukan tasawuf dan merasa cocok dengan tasawuf karena tasawuf dirasa memberi solusi yang mereka cari selama ini.

Jangankan anak-anak muda kita, psikolog-psikolog Barat sekarang ini banyak yang masuk ke wilayah kecerdasan spiritual, yang sebenarnya merupakan wilayah tasawuf. Tapi karena
pengaruh budaya sekuler, kecerdasan spiritual yang mereka miliki hanya melayang-layang saja dan tidak akan pernah menukik menyelesaikan masalah.

Apa ada yang salah cara beragama anak muda sekarang ?
Yang salah itu keadaan. Mereka lahir kedunia bukan atas kemauan sendiri, situasi yang dijumpai sekarang juga bukan situasi yang mereka inginkan. Mereka menghadapi realita seperti ini maka begitulah respon mereka.

Bagaimana solusinya untuk yang akan datang ?
Bangsa ini butuh pemimpin besar. Orang besar adalah orang yang mampu berfikir, merasa, dan
cita rasanya itu melampaui sekat-sekat ruang dimana ia berada, waktu dimana ia hidup. Itu orang besar. Karenanya si orang besar harus berfikir 50 tahun kedepan atau 100 tahun kedepan. Kalau
dia berbuat dia menyadari bahwa yang diperbuat itu juga akan ditonton dan direspon oleh
200.000.000 orang.

Kalau pemimpin besar ini punya ghiroh (semangat) tasawuf itu yang akan secara alami merontokkan penyakit nasional seperti korupsi, maksiat dan lain sebagainya. Korupsi di Indonesia sudah menjadi konsep, budaya. Semua orang korupsi dan tidak merasa bersalah; ah yang lain juga begitu !. Nah ini harus diatasi dengan contoh pemimpin yang diikuti dengan peraturan, tetapi untuk masyarakat kita keteledanan yang tinggi itu lebih efektif ketimbang demokratisasi. Demokratisasi ?, lihat saja pilkada, tidak melahirkan banyak manfaat apa-apa,
karena orang masih bisa dibayar, tetapi kalau keteladanan pemimpin itu efektif. Dan keteladanan
itu yang dicari anak-anak muda sekarang.

Nah, kiranya untuk konteks kekinian, hanya pemimpin yang bertasawuf saja yang dapat memberikan keteladanan pada generasi mendatang. Sehingga pendekatan sufistik di era sekarang
ini tidak lagi pada mencari jalan keselamatan, lebih dari itu sebuah pendekatan sufistik yang dapat membangun masa depan.

posted by : Mubarok institute

HADITS DAKWAH PERTEMUAN KE 11

HADITS HADITS TENTANG KEUTAMAAN DAKWAH HADITS HADITS YANG BERKAITAN DENGAN KEUTAMAAN DAKWAH   A.     Dakwah adalah Muhimmatur Rus...